
hariansuara.com, PBB - Perserikatan Bangsa Bangsa mengutuk peluncuran rudal balistik Korea Utara dan menuntut negara tersebut menghentikan program senjatanya.
Korea Utara mengatakan peluncuran rudal balistik jarak menengah (IRBM) pada hari Selasa untuk melawan latihan militer A.S. dan Korea Selatan.
Pemimpin Korut, Kim Jong Un, memerintahkan peluncuran yang dilakukan untuk pertama kalinya dari ibukotanya, Pyongyang, dan mengatakan akan lebih banyak latihan sesuai target yang dibutuhkan, kata kantor berita KCNA Korea Utara, Rabu. Latihan peluncuran roket balistik saat ini seperti perang sesungguh ini adalah langkah awal operasi militer KPA di Pasifik
Korea Utara bulan ini mengancam akan menembakkan empat rudal ke laut dekat Guam, tempat kehadiran militer utama A.S., setelah Presiden Donald Trump mengatakan Korea Utara akan menghadapi "api dan kemarahan" jika mengancam Amerika Serikat.
Dewan Keamanan 15 anggota mengatakan sangat penting bagi Korea Utara untuk segera melakukan tindakan nyata mengurangi ketegangan dan meminta semua negara untuk menerapkan sanksi PBB.
Namun, pernyataan yang disusun AS, yang disepakati oleh konsensus, tidakememberikan sanksi baru terhadap Korea Utara. Duta Besar China dan Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan mereka menentang sanksi sepihak terhadap Korea Utara dan mengulangi seruan untuk menghentikan penerapan sistem pertahanan rudal AS di Korea Selatan.
"Saya tentu berharap kita dapat memiliki resolusi yang kuat untuk menindaklanjuti pernyataan ini," Duta Besar Jepang untuk PBB, Koro Bessho.
Sementara itu, berbicara di Beijing, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan China sedang mendiskusikan situasi tersebut dengan anggota Dewan Keamanan lainnya dan akan membuat "tanggapan yang diperlukan" berdasarkan konsensus yang dicapai.
"Setiap tindakan melawan Korea Utara harus berada di bawah kerangka Dewan Keamanan PBB dan harus dilaksanakan sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan," katanya dikutip Reuters, Rabu, (30/8).
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU