
.
hariansuara.com, Seoul - Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin empat partai oposisi menyetujui upaya bipartisan untuk menghilangkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Moon mengadakan pertemuan dengan kepala Partai Demokrat, Partai Rakyat Sentris, Partai Keadilan Progresif dan Partai Kebebasan Konservatif untuk membahas masalah keamanan.
Kepala oposisi utama Partai Liberty Korea menolak menghadiri pertemuan antara pemimpin partai dan presiden, menurut Blue House.
Setelah pertemuan tersebut, lima poin bersama dikeluarkan untuk menegaskan kembali prinsip dasar penyelesaian masalah nuklir semenanjung dengan damai sementara menyetujui upaya bipartisan untuk meredakan ketegangan di semenanjung tersebut.
Pernyataan tersebut mendesak Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) atau Korea Utara segera menghentikan provokasi, menempuh jalan damai dan denuklirisasi.
"Sebuah perang tidak akan pernah bisa diterima di Semenanjung Korea. Kami menegaskan kembali sebuah prinsip masalah keamanan, termasuk isu nuklir Korea Utara, harus diselesaikan dengan damai," kata pernyataan tersebut dilansir Xinhua, (28/9).
Dikatakan upaya partisan di Majelis Nasional, dimana pemerintah juga akan secara aktif mendukung, akan penting meredakan ketegangan di semenanjung Korea .
Presiden dan pemimpin partai oposisi sepakat membentuk sebuah komite tetap membahas urusan negara, yang akan memudahkan mereka bertemu lebih sering dan mudah.
Ketegangan meningkat di semenanjung saat Korut melakukan uji coba nuklir keenam dan paling kuat pada 3 September. Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi baru yang memberatkan sanksi terhadap Pyongyang. Sebagai tanggapan, Korut menguji rudal balistik jarak menengah (IRBM) di atas Jepang.
Perang retorika dilanjutkan antara Pyongyang dan Washington, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam pidatonya bahwa negaranya tidak punya pilihan lain kecuali "menghancurkan DPRK jika terus mengancam Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengeluarkan sebuah pernyataan dalam menanggapi pidato Trump di PBB dan memperingatkan Washington tentang tindakan keras tingkat tinggi dalam sejarah.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU