
hariansuara.com, Washington - Pemerintahan Donald Trump secara terbuka menyalahkan Korea Utara karena melakukan serangan cyber WannaCry yang melumpuhkan rumah sakit, bank dan perusahaan lain di seluruh dunia awal tahun ini.
"Serangan itu meluas dan menghabiskan biaya miliaran,dan Korea Utara bertanggung jawab secara langsung," kata Tom Bossert, penasihat keamanan Presiden Donald Trump, menulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada hari Senin (18/12) di Wall Street Journal.
"Korea Utara telah bertindak sangat buruk, sebagian besar tidak terkendali, selama lebih dari satu dekade dan perilaku jahatnya semakin mengerikan," tulis Bossert. "WannaCry tanpa pandang bulu, ceroboh."
Gedung Putih diperkirakan akan ditindaklanjuti dengan sebuah pernyataan yang lebih formal menyalahkan Pyongyang, menurut seorang pejabat administrasi senior.
Pemerintah AS menilai dengan "tingkat kepercayaan yang sangat tinggi" bahwa entitas hacking yang dikenal sebagai Lazarus Group bekerja atas nama pemerintah Korea Utara melakukan serangan WannaCry.
Lazarus Group oleh periset keamanan dan pejabat AS bertanggung jawab atas hacking Sony Pictures Entertainment tahun 2014 yang menghancurkan file, membocorkan komunikasi korporat secara online dan menyebabkan kepergian beberapa eksekutif atas studio tersebut.
Korea Utara berulang kali menolak bertanggung jawab atas WannaCry dan menyebut tuduhan serangan cyber itu sebagai kampanye kotor.
Tuduhan tersebut muncul disaat kekhawatiran mengenai kemampuan hacking Korea Utara dan program senjata nuklirnya.
Namun banyak periset keamanan, termasuk perusahaan cyber Symantec, dan juga pemerintah Inggris, menyimpulkan Korut kemungkinan berada di balik serangan WannaCry, yang dengan cepat menyebar di seluruh dunia pada bulan Mei menginfeksi lebih dari 300.000 komputer di 150 negara.
WannaCry meretas rumah sakit Inggris dan memaksa ribuan pasien menjadwal ulang janji dan mengganggu infrastruktur dan bisnis di seluruh dunia.
Serangan awalnya tampak seperti kampanye meminta uang tebusan, di mana hacker mengenkripsi komputer yang ditargetkan dan meminta pembayaran untuk memulihkan file. Beberapa ahli kemudian menyimpulkan ancaman tebusan merupakan gangguan yang dimaksudkan untuk menyamarkan maksud yang lebih merusak. Jaringan komputer FedEx termasuk yang paling banyak terdampak serangan. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU