
hariansuara.com, Jakarta - Pentolan band U2 Bono, juru kampanye untuk pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi saat berada di bawah tahanan rumah, meminta pemimpin Myanmar itu untuk mengundurkan diri terkait kampanye mematikan terhadap Muslim Rohingya.
Penyanyi yang memperjuangkan Suu Kyi dalam lagu U2 berjudul Walk On ini merasa "mual" oleh gambar pertumpahan darah dan pengungsi Rohingya.
"Saya benar-benar merasa sakit, karena saya tidak bisa mempercayai apa yang ditunjukkan semua bukti. Tapi itu ada pembersihan etnis," katanya kepada majalah Rolling Stone terbitan terbaru. "Itu benar-benar terjadi, dan dia harus mengundurkan diri karena dia tahu ini terjadi," kata Bono,
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika Serikat sebelumnya menggambarkan kampanye Myanmar melawan orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan, kebanyakan Muslim Rohingya sebagai pembersihan etnis. Dokter Without Borders atau MSF mengatakan setidaknya 6.700 Rohingya tewas dalam bulan pertama penyisiran di desa-desa di Rakhine.
Suu Kyi, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991, mendapat banyak dukungan dari selebritis saat ia menghabiskan hampir dua dekade di bawah tahanan rumah atas perintah junta militer Myanmar.
Peralihan pemerintahan Myanmar ke Suu Kyi pada awalnya ditanggapi positif oleh kelompok hak asasi manusia, namun mereka marah dengan sikap diamnya dalam menangani kampanye anti-Rohingya. Beberapa ahli percaya Suu Kyi telah membuat keputusan yang diperhitungkan untuk tidak mengambil risiko politik saat berbicara tentang Rohingya yang secara luas dibenci di Myanmar yang mayoritasnya beragama Buddha.
Awal bulan ini Dublin, kampung halaman Bono, mencabut penghargaan yang diberikan kepada Suu Kyi terkait penanganan etnis Rohingya. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU