
Jakarta – Berangkat dari keprihatinan terhadap sebagian masyarakat ibukota Jakarta yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya terutama untuk makan sehari-hari. Sekelompok pemuda yang ingin berbagi, membentuk gerakan sosial dengan komunitas yang diberi nama ‘Berbagi Nasi’.
“Saat ini masih banyak masyarakat miskin yang hidup kelaparan dan benar-benar membutuhkan uluran tangan dari masyarakat lainnya untuk berbagi kebutuhan hidupnya,” kata Koordinator Komunitas Berbagi Nasi, Samsul Arifin.
Ia menyebutkan, banyak masyarakat yang ingin menunjukkan kepeduliannya kepada sekitar, tetapi bingung caranya. Melalui komunitas yang ia dirikan bersama sejumlah koleganya, mereka bisa berbagi dengan sesama.
“Hanya panggilan hati, kalau merasa nggak punya apa-apa jangan sampai orang lain merasakan apa yang kita rasakan,” ujar Samsul kepada HarianSuara.com.
Komunitas ini didirikan sejak 13 Desember 2012 dan setiap minggu mereka melakukan kegiatan berbagi nasi kepada masyarakat Jakarta sampai sekarang.
Kegiatan Berbagi Nasi ini kata Syamsul, tidak hanya sebatas memberi sebungkus nasi, tetapi kalau ada yang membutuhkan selimut, obat-obatan juga akan disediakan.
“Minimal yang biasa kita makan. Kita pun menerima sumbangan dari luar, bisa dalam bentuk dana ataupun nasi bungkus. Kalau tidak bisa dalam bentuk nasi atau dana, bisa juga lewat tenaga berbagi dengan aksi / kegiatan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pihaknya memperhitungkan biasanya setiap satu kali kegiatan, mengeluarkan sampai 200 – 250 bungkus. Satu bungkus berisi nasi dan lauk pauknya seperti ayam, daging, ikan, tahu, tempe, telur dan lainnya, yang jika dinilai rupiah sekitar Rp 15.000.
Dalam membagikan, pihaknya berkeliling wilayah Pulomas, Kelapa Gading, Rawamangun, Jatinegara, Kampung Melayu, Manggarai, Cikini dan Asemka. Sasarannya adalah keluarga pemulung, tukang ojek, tunawisma, pekerja malam, tukang gali dan lainnya, kecuali pengamen dan pengemis.
“Yang kami sasar untuk dibagikan seperti keluarga pemulung, tukang ojek, homeless (tunawisma), pekerja malam, tukang gali, tukang ojek sepeda. Namun pengamen dan pengemis tidak diberikan, kami beralasan karena akan memanjakan mereka. Waktu yang paling pas yang kami lakukan berbagi nasi di setiap jumat malam, sekitar jam 9 malam,” tutur Samsul.
Samsul menambahkan, pemberian nasi tersebut juga dilakukan disaat bencana alam seperti longsor, banjir dan kebakaran. Di samping itu, pihaknya juga melakukan kegiatan lainnya seperti kegiatan donor darah.
“Jadi siapa yang membutuhkan darah akan kami upayakan. Intinya berbagi dari yang kita suka dan kita punya. Mottonya sedikit dari kita berarti buat mereka. Harapannya jangan takut memberi, jangan ragu berbagi,” tutur Samsul.
Saat ini anggota komunitasnya berjumlah sekitar 50 orang, dengan latar belakang profesi yang beragam. Ada yang guru, dokter dan dari berbagai kalangan.(Liputan eksklusif Albi Wahyudi, HS)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU