
Lamongan – Meski berbasis pesantren, Madrasah Matholiul Anwar, Karanggeneng, Kabupaten Lamongan acap berhasil mengukir prestasi. Baik di tingkat lokal maupun di kancah nasional.
Baru-baru ini pada lomba KOMPeK 19, yang diselenggarakan oleh BEM FEB Universitas Indonesia, dalam tema Optimizing the Use of Technology to Enhance Indonesia Productivity, sekolah ini berhasil meraih hattrick lomba. Tak tanggung-tanggung, sejumlah gelar disabet sekaligus. Yaitu juara pertama, juara ke dua, dan gelar the best presentation.
Lomba ini dikelompokkan dua kategori, yaitu Business Challenge Team dan Economic Research Paper Team.
Peserta kategori pertama sejumlah 150 tim, dari penjuru tanah air. Seleksi awal terjaring tujuh tim. Dari situlah Madrasah Aliyah Matholiul Anwar Lamongan berhasil meraih juara ke dua dengan judul Sandal Ukir.
Menurut Ahmad Andre Hadi Wijaya, salah satu anggota tim, pemilihan tema Sandal memberikan ide inovatif. Dengan tambahan ukiran yang unik dan indah, sandal akan layak dikenakan kemana saja.
Rekan satu timnya, Ahmad Azkal Barri Mahfudzi menambahkan, “Selain ukiran sandal, kami juga membuat hiasan ukir yang dibingkai pigura. Ini dapat dijadikan cindera mata.”
Tim lain untuk kategori Economic Research Paper Team, dikomandani oleh Mohammad Hafiduddin Karim dengan anggota Bayu Alfiansyah, dan Afifah Fatimah.
Tim ini meraih dua kejuaraan, yaitu Juara Pertama dan kategori Presentasi Terbaik.
Karya yang diusung oleh Tim Mawar ini adalah `Trigonal Management System (Agriculture, Livestock and Online Technology for Marketing)`.
Tim ini fokus pada solusi untuk menekan harga daging sapi di Indonesia, Studi Kasus Taman Teknologi Pertanian Desa Banyubang Kabupaten Lamongan.
Lantaran melejitnya harga daging sapi akhir-akhir ini angka konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia yang rata-rata 2,61 kg/kapita/tahun, menjadi anjlok.
“Agar hal ini tak terjadi, perlu adanya solusi berupa manajemen yang tepat. Intinya perlu adanya integrasi antara tiga sektor dalam menekan harga daging di Indonesia. Yaitu integrasi pertanian, peternakan dan pemasaran secara online. Juga investasi secara online baik personal invesment atau join investment lewat e-investment,” tutur Karim.
Kategori ini lebih menantang karena diikuti oleh 273 tim dari sekolah-sekolah favorit Nusantara.
“Karenanya kesuksesan menyisihkan ratusan karya peserta lainnya, terasa sangat membanggakan,” ungkap Pembina Karya Ilmiah Matholiul Anwar Mohammad Yusuf, yang juga alumnus sekolah ini.
“Kami membina budaya Karya Ilmiah di Aliyah Mawar ini mulai tahun 2007. Dengan ketekunan dan kerja keras, hasilnya bisa kami nikmati sekarang,” jelas Helmy Tanjung selaku Pembina KIR senior di Mawar. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU