
Apa sih CQC? Begitu pasti yang terbersit di benak saat menemukan 3 huruf itu. CQC adalah singkatan Cipete Quilting Community. Pendirinya, ibu Nisa Hariadi, seorang pakar seni quilting di Indonesia yang kebetulan tinggal di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.
Quilting sendiri adalah seni menggabungkan potongan perca dengan berbagai ukuran dan kemudian dilapis quilt. Pengerjaannya rumit namun hasilnya, tentu sangat cantik.
“Komunitas Quliting Cipete ini didirikan atas permintaan para murid yang telah belajar pada saya. Mereka ingin berhubungan terus dengan saya untuk mengembangkan ketrampilan tersebut,” begitu tutur ibu 2 anak yang ramah ini kepada HarianSuara.
Sang pakar quilting ini pun tergerak untuk memenuhi keinginan para mantan muridnya. Seni quilting yang berkembang di Jepan dan Amerika ini memang terbilang seni yang agak langka.
Seni ini terus berkembang dengan ide-ide baru, dan para pecintanya tak ingin ketinggalan. Maka lahirlah CQC.
“Saya tidak menyangka kalau anggotanya makin makin lama makin banyak. Setiap angkatan yang telah trampil, tak mau lepas, dan langsung jadi member. Ini sudah angkatan ke 8, dan kami semua tetap akrab bertemu seperti keluarga,” cerita Nisa di kediamannya.
Tak hanya itu, karena makin bertambah banyak, maka beberapa anggota mengusulkan untuk mengadakan acara gathering. Ternyata sambutan dari para anggota, luar biasa.
Sejak didirikan dari tahun 2008-2016, bergabung 475 anggota. Mereka berasal dari bermacam suku, dari Aceh hingga Papua.
Dari kelompok tersebut masing-masing belajar bersama secara intensif. Seperti sekelompok ibu-ibu dari Kalimantan, belajarnya Senin-Jumat.
Yang dari Papua dan lainnya, hadir berbeda hari. Namun setiap hari selalu ada kelompok belajar. Wajar jika Nisa sangat sibuk setiap harinya.
Komunitas Cipete ini berkantor di Cipete, kumpulnya setiap sebulan sekali. Dari 475 orang member, 400 member belajar di Menara 165, sisanya yang 75 orang masih belajar di Cipete arena keterbatasan tempat. Meski begitu mereka saling tetap memberi informasi dan belajar bersama-sama.
Semaju Di Houston, Amerika
“Dalam komunitas ini, saya tetap membantu. Murid yang telah trampil menggantikan posisi saya, mengajar kelompok di bawahnya. Kalau tidak dibantu, saya akan kewalahan. Sebab saya sendiri hingga sekarang, tetap belajar seni quilt ini ke Amerika. Pakar quilting yang aktif adalah di Amerika,” terang Nisa.
Setiap tahun selalu diselenggarakan quilt exhibition di Houston, Amerika. “Saya selalu memerlukan hadir dan berguru pada guru-guru di Amerika pada kesempatan tersebut,” ujarnya.
Ilmu quilting ini tidak mandek. Selalu ada ide baru yang muncul.
“Di sana saya belanja pola baru, motif baru dan tehnik serta peralatan yang baru dirilis. Saya juga berdiskusi dan mengerjakan apa yang disarankan guru-guru saya di sana. Jadi apa yang berkembang di Houston, begitu pulang, saya ajarkan juga pada murid-murid saya di Jakarta. Saya tidak dapat berhenti memperdalam ilmu ini,” ungkap Nisa.
Hal inilah yang membuat seni quilting di Houston nyaris sama majunya dengan di Jakarta.
Ajang Kompetisi Ketrampilan
Melihat jumlah anggota CQC yang sudah ratusan dan rata-rata telah trampil dalam seni quilting, Nisa mulai terpikir untuk membuat kompetisi.
“Kan kurang semangat kalau kegiatannya akhirnya hanya memajang quilting. Jadi, kemudian ada ide untuk lomba, biar mereka nyalinya makin gede, makin kreatif, dan bikin mereka pede.”
Rencana itu kemdian direalisir. Ternyata pesertanya membludak. Salah satu diantaranya karena para jurinya istimewa.
“Saya datangkan juri dari Amerika, Australia, Afrika Selatan dan Belanda. Para juri ini semua punya background quilt. Sehingga ketika menilai, mereka obyektif. Kalau bagus bilang bagus, kalau jelek, bilang jelek. Tidak ada KKN."
Hal ini menambah semangat para peserta. Kompetisi ini juga akhirnya menarik perhatian publik. Akibatnya, banyak lagi orang-orang yang tertarik untuk belajar dan bergabung. Hasil karya quilting ini memang memikat hati.
Karena para alumni berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan mereka tetap akrab berhubungan, terpikirlah kemudian untuk mengadakan acara gathering.
“Ini angkaan ke 8 dan masuk ke angkatan ke 9. Dalam gathering ini angkatan satu dan angkatan yang lain terbuka untuk saling mengenal. Saling memberi informasi. Saling mengajari. Dan alhamdulillah gathering yang biasanya diadakan tiap Februari selama satu hari ini selalu berjalan dengan akrab dan mengesankan,” imbuh Nisa.
Ketika kemudian banyak permintaan untuk ikut belajar dan ruangan tak mampu menampung, dibuatlah cabang-cabang komunitas quilting di seluruh daerah. Misalnya di Lippo Karawaci, Bekasi, Bandung, Balikpapan, Pekanbaru, Papua.
Sungguh, suatu kegiatan yang sangat bermanfaat, menambah khasanah ketrampilan seni baru di Indonesia. Sekaligus menyambung silaturahmi yang indah di antara para anggota yang hadirs dari berbagai daerah. Semua berkat Nisa Hariadi yang selalu haus untuk menambah ilmu quilting dan menyebarkannya di Indonesia.(Albi Wahyudi)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU