
Bojonegoro - Zaman global adalah zaman perang kebudayaan. Hanya ada dua pilihan, bertahan berjuang atau tersungkur dan kalah. Demikian dituliskan Arieyoko, di catatan belakang buku kumpulan geguritan 11 perempuan berjudul ‘Wanodya’.
Sebagai pemrakarsa terbitnya buku tergolong langka ini, Arieyoko meyakini bahwa sastra etnik Djawa masih tetap mampu bertahan.
“Derasnya gelombang kesusasteraan, sebagai bagian dari zaman global itu, musti disikapi sejak dini. Buku ini, menjadi pemantiknya,” ujar Arieyoko yang setia mengusung kredo sastra etnik.
Tercatat 11 nama penulis geguritan dalam buku `Wanodya`, dari Yogya (Sitoresmi Prabuningrat, Ninuk Retno Raras dan Endang Wahyuningsih), Purbalingga (Windu Setyaningsih), Salatiga (Suratmini), Semarang (Sulis Bambang dan Yanti S Prayitno), Sragen (Sus Hardjono), Nganjuk (Ely Widayati), Blitar (Trinilya Kinasih) dan Melbourne (Yacinta Kurniasih).
Catatan kata pengantar ditulis oleh Prof Faruk (UGM Yogya) dan Prof Agus Maladi Irianto (Undip Semarang). Sedang untuk catatan penutup ditulis Sunardian Wirodono, Yogya.
Diakui Arieyoko, “Menyiapkan buku geguritan memang lebih rumit. Terutama pada ejaan penulisannya. Karenanya, saya minta bantuan Djajus Pete (Bojonegoro) dan Widyartono (Semarang), untuk bertindak sebagai editor.”
Acara peluncuran bakal digelar di ruang seminar Taman Budaya Yogya, Jl Sriwendani, pada hari Sabtu, 13 Mei 2017, Pukul 19.30 wib. Terbuka untuk umum dan tersedia 10 buku gratis untuk pengunjung pertama. Hayooo, siapa cepat bakal dapat. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU