
hariansuara.com, Jakarta – Komunitas Pelukis yang berlabel Kelompok Pelukis dan Penulis Indah (KPPI) ini merupakan salah satu wadah bagi para pelukis berbakat. Berdiri sejak 1999, hingga kini masih tetap eksis.
Pendirinya, Suwito, yang juga Ketua KPPI ini mengungkapkan, “Di bulan puasa ini kita terus berkarya dan menerima banyak pesanan, Jadi tidak ada hari lowong, meski puasa" terang Suwito kepada hariansuara.com.
Kemampuan melukis Suwito telah dirasakannya sejak kecil.
“Dari kecil itulah saya sering berlatih. Apalagi ini memang hobi saya,” tuturnya, “Untuk mahir melukis, harus tekun berlatih. Nah di komunitas inilah, kami dulu berlatih bersama dengan para anggota. Kalau tekun, dalam 2 atau 3 tahun pasti jadi mahir.”
Lukisan yang dihasilkan tentu saja bermacam-macam, jenis ada lukisan panorama, bunga, lukisan diri. Biasanya menggunakan cat minyak di atas kanvas dengan ukuran yang bervariasi. Tentu saja makin luas kanvas yang digunakan, makin mahal harganya.
Waktu untuk setiap pemesanan juga bervariasi, ada yang 4 atau 5 hari, ada yang hingga beberapa minggu, tergantung dari kerumitan lukisan. Apalagi setiap lukisan harus di-frame, yang perlu juga dikerjakan dengan cermat.
Pelanggannya, ungkap Suwito, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga sudah sampai mancanegara.
“Kita kerjakan pesanan yang hubungannya dengan seni termasuk membingkai. Apalagi pemesannya juga banyak yang dari mancanegara terutama dari Timur Tengah, Dubai, Qatar, ada juga yang dari Asia dan sesekali dari Eropa,” tuturnya.
Komunitasnya juga acap mengikuti pameran bersama di sejumlah tempat dan pernah mendapatkan beberapa penghargaan.
“Beberapa kali kami ikut pameran bersama. Di antaranya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Galeri Nasional, festival pasar baru, festival jalan Jaksa, di beberapa hotel dan kegiatan lainnya. Kami pernah mendapatkan penghargaan tingkat DKI Jakarta, dengan penghargaan berupa sertifikat/piagam. Kalau untuk perorangan saya sudah dapat di tingkat nasional, waktu pameran di NTT,” ucap Suwito.
Saat ini lanjut Suwito, keanggotaan KPPI telah berjumlah sekitar 60 orang. Dan tidak akan menambah anggota lagi.
“Karena jumlah itu telah didata di UMKM Jakarta Pusat,” tutur Suwito.
Dirinya, ungkap Suwito, tidak membuka kelas lukis untuk mengajarkan pada umum/masyarakat maupun murid-murid sekolah.
“Tapi para mahasiswa dari perguruan tinggi Sejabodetabek banyak yang datang, juga siswa SMP dan SMA, biasanya sharing soal seni dan budaya yang berkaitan dengan tugas sekolah mereka. Bahkan pernah finalis Abang dan None Jakarta Timur datang untuk pembekalan warisan seni dan budaya,” jelas Suwito.
Kini lokasi berkumpulnya KPPI yang beralamat di Jalan Kesenian Pasar Baroe selalu ramai dengan para anggota. Mereka biasa beraktifitas dari siang hingga malam hari. Sejumlah lukisan juga banyak terpajang di sana.
“Kami berharap tempat ini bisa dibangun menjadi permanen. Dan Surat Keputusan (SK)-nya diperpanjang terus oleh Walikota Jakarta Pusat,” pungkasnya. (Albi Wahyudi)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU