hariansuara.com, Jakarta - Lantaran alasan sentimentil tidak boleh memelihara seekor anjing oleh mertuanya sendiri, seorang pecinta anjing Mohammad Halilintar Radjawali mengekspresikan kecintaannya dengan mendesain dan membuat beragam aksesoris bertema anjing mulai dari pakaian, aksesoris, hiasan rumah, patung, hingga perabotan semua berhiaskan ornamen anjing.
“Walau tidak boleh pelihara anjing, tetapi saya pelihara anjing dalam bentuk lain yaitu MyDog. Mydog ini saya memulai bisnis dari ide sendiri dengan alasan yang sangat sentimentil karena boleh memilihara anjing, usaha ini sudah saya lakukan sejak September 2011” tuturnya.
Tanpa dinyana, tanggapan dari masyarakat terutama dari komunitas pecinta anjing positif. Dan akhirnya bisnis ini dapat berjalan terus. Produknya semakin berkembang, yang tadinya berupa pakaian sekarang merambah ke produk lainnya berupa topi yang memiliki dua daun telinga layaknya seekor anjing, patung anjing, dan produk stationary. Mohammad Halilintar Radjawali atau yang kerap disapa Jenggo mengatakan jika ditotal hampir 800 items yang dihasilkan.
Untuk produknya sendiri, Jenggo mematok harga dari yang fast moving sifatnya seharga ratusan ribu sampai ekslusif dengan harga sampai 1 jutaan lebih. Patung-patung lucu yang diproduksi My Dog, Jenggo membuatnya di daerah Cilangkap, sedangkan untuk baju diproduksi di Bandung, Jawa Barat.
Akan halnya dengan Produk MyDog, pemasarannya disebar di outlet-outlet dan keagenan atau distributor. Selain itu jika konsumen ingin mendesain sendiri, MyDog juga melayani custom atau tema sesuai dengan pesanan. Keagenan My dog menjalar sampai ke pulau Dewata, Yogyakarta, Makassar dan Medan.
“Mydog juga telah eksport tetapi kecil-kecilan ke Prancis dan Swiss. Pekerja di Mydog bisa dibilang sangat minimalis, pegawai saya hanya lima selebihnya outsource. Tapi range pendapatan MyDog kurang lebih 3-4 empat juta dalam sehari atau sebulan bisa 100 jutaan lebih” terang Jenggo.
Diakui Jenggo untuk menjalankan bisnis ini harus dekat dengan komunitas pencinta anjing dan personal pecinta anjing. “Kita harus mengerti dan menyayangi anjing. Sentimentil sekali kalau kita membahas hewan yang satu ini. Pelanggan suka, mereka lalu promosi ke teman temennya lainnya” tutur Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknik Bandung ini.
Dan namanya menjalankan usaha pastilah ada kerikil-kerikil yang menghambat. Hal ini diiyakan oleh Jenggo, hambatan utama salah satunya adalah penjualan Mydog yang tidak berimbang bagi pengeluaran. Jenggo harus membuat jadwal produksi, target marketing dan inventory. Semakin banyak barang otomatis semakin banyak tempat yang harus disediakan. “ Cara mengatasinya, saya nikmati saja prosesnya, antara passion, R and D dan bisnis, kita harus pisahkan dan kita tidak bisa jalan sendiri” katanya.
Nah, perihal target kedepannya, Jenggo memiliki rencana untuk outlet konsinyasi. Dan harus berani mengolah dana pinjaman, dari sana akan dinaikkan volume produksi. “MyDog punya rencana yaitu eksport yang sifatnya mensupport retail di luar negeri, semoga saja terwujud” pungkasnya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU