Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Kain Perca Bisa Juga Jadi Usaha

Peluang Usaha
07 Feb 2019
Kain Perca Bisa Juga Jadi Usaha

hariansuara.com, Jakarta -Ingin mendirikan sebuah bisnis, acapkali terkendala oleh yang namanya itu modal. Banyak kita berpikir modal besar dikantong itu penting dalam mengawali dan menjalankan usaha. Tapi jangan salah,  bangun usaha itu tak melulu soal modal besar. Contohnya saja wanita bernama Netty Lukman ini dengan brandnya yang bernama Tangan Ketjilkoe.

Netty mengatakan hanya membutuhkan modal awal sekitar Rp. 200-400 ribu untuk mendirikan bisnisnya. Modal itu digunakannya untuk membeli bahan kain, dan bahan lainnya. 

"Mulai sekitar seriusnya dua tahunan. Pertamanya hanya hobi saja kesukaan pada kerajinan tangan."kata Netty kepada hariansuara.com beberapa waktu lalu.

Netty mengatakan inspirasi khusus untuk usahanya tidak ada. Tapi dirinya sangat salut kepada emak-emak yang berani berhenti bekerja dan menggeluti usaha sambil mengurus keluarga. Dan tentunya bisa bermanfaat bagi orang lain juga.

Produk dari Ketjilkoe ini berupa kalung yang berbahan dasar kain atau batik. Teknik pembuatannya beragam mulai dari "kanzashi", yaitu teknik lipat kain dari Jepang  yang dikombinasikan dengan berbagai material tambahan, mulai dari bebatuan sampai logam dan teknik lainnya. Netty mendapatkan ketrampilan lipat kain Jepang ini secara otodidak. Saluran internet menjadi media referensi dan belajarnya. 

Untuk proses produksi dan pemasaran masih dikerjakan sendiri. Kapasitas produksi sekitar dua kalung perharinya dan dia juga menerima pesanan kalung "custom" yang sesuai dengan keinginan customer. Bahan baku paling utama adalah kain batik yang diperoleh dari Jakarta dan Pekalongan. Harga yang ditawarkannya pun mulai dari Rp. 35.000 - 185.000.

Bagaimana dengan distribusinya? Netty mengatakan masih sekitar Jakarta dan beberapa pulau di Indonesia. "Pernah juga ada yang pesan dari luar negeri dari California tepatnya."tambahnya.

Untuk pemasarannya, Ketjilkoe mengandalkan perpaduan antara online dan offline. Online, Netty banyak menggunakan instagram. Selain online, Ketjilkoe juga jualan lewat offline melalui pameran-pameran seperti Inacraft. Netty mengatakan respon masyarakat sejauh ini positif, namun masih banyak masukan dari konsumen.

Demi menjaga kualitas, Netty menggunaan bahan yang bermutu. Tapi mencari bahan baku yang berkualitas susah gampang. Dan inilah yang menjadi kendala dalam bisnis Ketjilkoe.  "Bahan baku terkadang terlalu mahal. Kalau mahal maka harga jual juga semakin mahal." tuturnya.

Netty mengakui usaha yang dikembangkannya banyak yang harus diperbaiki dan masih jauh dari kata sukses. "Tapi menurut saya dalam berbisnis adalah terus mencoba, belajar terus dan tidak pernah menyerah."katanya.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X