
Jakarta – Menekuni hobi baru yang sama sekali asing. Itu pilihan. Nisa Hariadi ketika harus mendampingi sang suami bertugas ke luar negeri.
Keingintahuan yang besar dan ketekunannya, membawa lulusan Politeknik ITB ini membuka peluang usaha yang masih benar-benar langka di Jakarta.
Itu tahun 1994 saat ia mendampingi suami yang bertugas ke Dallas, Texas, AS.
Bersama teman-temannya mereka menjumpai hasil karya seni quilting yang belum pernah dilihatnya di Indonesia.
Quilting adalah seni menggabung-gabungkan kain dengan ukuran dan potongan tertentu untuk membentuk motif-motif yang unik.
Potongan-potongan kain perca tersebut lalu ditindas dengan jahitan model jelujur yang ukurannya harus sama jika dilihat dari sisi mana pun.
Karena prinsip pengerjaannya dengan tangan, boleh dibilang setiap orang akan menghasilkan karya yang berbeda dari orang lainnya.
Nisa tertarik untuk mempelajari teknik pengerjaan quilt yang sangat rumit ini, “Mulai dari teknik patchwork, dimana kain dipotong-potong dengan bentuk geometri. Misalnya segi empat atau segitiga dengan ukuran yang sama. Potongan-potongan ini lalu harus saya jahit satu sama lain hingga menghasilkan suatu pola.”
Teknik berikut yang mengikuti adalah applique. “Di sini potongan-potongan kain tadi dibentuk jadi gambar. Misalnya binatang, bunga-bunga, rumah dan sebagainya,” jelasnya.
Teknik terakhir yang dikuasainya adalah paper piecing. Yaitu kain perca yang sudah dialasi kertas di belakangnya, dilapis lagi dengan kain, lalu kain tersebut dijahit dengan lapisan teratas. Kertas itu lalu dibuang sedikit-sedikit ketika semua bagian sudah disatukan.
Rumit kan? Memang. Tetapi Nisa sangat tertarik dengan seni yang berasal dari kebudayaan bangsa Amish ini.
Ditugaskannya kembali sang suami ke Houston-Amerika selama tiga tahun, memberi kesempatan pada Nisa untuk meningkatkan keahliannya.
Ia mengambil intermediate class dan advance class untuk seni quilting di Houston ini. “Saya juga berburu macam-macam buku quilting dan peralatannya, karena di tempat lain nyaris tak ditemukan."
"Quilting ini lebih menantang daripada pekerjaan tangan lain yang saya tekuni, Misalnya keramik, keris, membuat karpet, membuat brain, membuat selimut, sajadah, sofa cover, decorating cake. Karena sangat tertarik, saya cepat belajar dan mampu membuat motif-motif yang unik,” kenangnya.
Karena telah andal, sewaktu kembali ke Pekanbaru lagi selama 2 tahun, ia tak lagi sebagai peserta kursus quilt, tapi menjadi pengajar rekan-rekannya.
Adanya Peluang Berbisnis
Lagi-lagi sang suami dipindah-tugaskan lagi. Kali ini ke Jakarta. Meskipun sudah menguasai seni quilting dan telah menjadi pengajar untuk kalangan dekatnya, Nisa tidak terfikir untuk berbisnis.
“Saat itu koleksi yang saya buat adalah hiasan dinding. Jumlahnya sudah 50an, beberapa saya pajang saja di rumah,” tuturnya.
Justru sang suamilah yang mendadak punya ide, “Dia bilang, kenapa kamu tidak mengenalkan quilting ini ke ibu-bu di Jakarta? Kan banyak yang belum tahu. Tapi saya belum terpikir bagaimana cara memulai memperkenalkan seni ini pada teman-teman.”
Dan peluang bisnis muncul tanpa terduga. “Waktu itu saya main ke rumah teman saya yang mengoleksi wall hanging quilt buatan saya. Kebetulan datang tamunya, seorang staf kedutaan.
Tamu itu tercengang melihat hiasan dinding tadi. Katanya itu indah sekali dan tak pernah dilihatnya seni semacam ini. Ia lalu menawarkan saya untuk ikut pameran Women International Club (WIC).”
Nisa membawa koleksinya untuk pameran tersebut. Hasilnya? "Banyak para ibu WIC yang tertarik. Karya saya banyak terjual. Mereka malah mendorong agar saya ikut pameran berikutnya. Saya senang sekali mendapat jalan. Sejak itu saya rajin mengikuti bazar-bazar di kedutaan Amerika, Australia, Belanda, Inggris, dan India,” ungkapnya.
Bukan hanya di WIC. Nisa juga memperlihatkan karya quiltingnya ke teman- teman lingkungan pengajian, klub sekolah orang tua murid. Juga ikut pameran Inacraft.
“Lingkungan saya makin berkembang. Hasil karya saya banyak diminati pembeli, saya senang karena banyak yang tertarik dengan keindahan seni ini," tutur Nisa.
Membuka Kelas Quilting dan Patchwork
Tak hanya pembeli, yang ingin belajar seni quilting ini ternyata kian banyak. Di Indonesia seni ini memang masih sangat jarang. Nisa pun mulai berbenah. Ia mulai mempersiapkan fondasi.
“Mulai banyak orderan. Saya juga sudah memiliki sejumlah pegawai. Makanya pada 2008 saya memberanikan diri membuka kelas quilting dan patchwork. Peserta kursus makin banyak sehingga 2 tahun ini kami menyelenggarakan semacama reuni, untuk silaturahmi dan berbagi pengetahuan quilting,” tuturnya.
"Seni quilting ini ada dua jenis, dari Jepang dan Amerika. Tehnik dari Amerika, patchworknya boleh memakai mesin quilting. Tetapi kalau Jepang, tidak boleh, harus pakai tangan.”
Perbedaannya, kalau Jepang, lebih rumit. Polanya kecil-kecil selalu memakai tangan. Hasilnya memang sangat indah.
“Kalau tehnik Amerika lebih cepat, karena boleh menggunakan mesin. Perkembangan ide baru juga banyak, sehingga orang terpacu untuk cepat mengerjakannya. Saya sendiri tetap memakai hand quilt. Meskipun dasarnya tetap dari Amerika,” tuturnya.
Bagi pemula, harus latihan mengerjakan quilting dengan rapi. “Ukurannya, memotongnya, menjahitnya, semua harus rapi. Meleset sedikit saja, hasilnya nampak tidak indah,” ujar Nisa.
Latihan kerapian hand quilt saja memakan waktu 3-6 bulan. “Kalau dia latihan tiap hari, pasti juga lebih cepat daripada yang seminggu sekali. Nah, ketika hasil kerja sudah rapi, barulah membuat macam-macam kerajinan, misalnya bantal kursi, yang dapat diselesaikan dalam 2-3 hari. Selimut king size ukuran 230-250, diselesaikan dalam satu bulan, itu baru quiltingnya. Kalau finishingnya perlu 2 minggu lagi,” jelasnya.
Nilainya Jutaan Rupiah
Harga dari tiap produk quilting memang bervariasi, karena tergantung pada bahan, kerumitan pola dan lamanya pengerjaan.
Contohnya membuat selimut single, modal bahan-bahannya saja sudah 1 juta rupiah. Belum ongkos untuk quiltingnya. Jadi kalau dijual, selimut single itu lebih dari 2 juta rupiah harganya.
"Sekarang sudah ada tukang quilting, jadi kita mengerjakan dulu semua topnya, disusun rapi, kemudian diserahkan ke tukang untuk diquilt. Pengerjaan tukang kadang 2 minggu, kadang sebulan atau lebih, tergantung lebar dan rumitnya pola. Nah, setelah selesai dari tukang, dikembalikan ke kita. Tugas kita selanjutnya memberi pinggiran. Ini juga memakan waktu lagi kan?”
Namun betapa pun, harga produk kreasi Nisa, ternyata jauh lebih murah ketimbang di luar negeri. Itu sebabnya banyak ekspatriat yang membeli quilt karya Nisa. Di Amerika, harga sepotong selimut bisa mencapai USD 10.000. Di Nisa selimut king size hanya Rp 6,5 juta atau Rp 3.250.000 untuk singlenya.
Harga wall hanging sekitar Rp 1,5 juta-Rp 2 juta, sajadah dan tas Rp 850.000, cover sofa Rp 2 juta. Masih banyak lagi taplak, sarung bantal sofa, hingga korden.
Harga tersebut tentu sudah termasuk penggunaan bahan-bahan berkualitas. Karena bahan, benang dan quiltnya khusus quilt yang masih diimpor.
"Saya pakai benang impor, karena benang jahit biasa kurang kuat. Jahitannya gampang retas. Kalau bahan, itu memang khusus. Dan tergantung musim. Kalau musim semi, kita tinggal berburu saja ke sana. Yang jual para petani. Kalau musim gugur, kita sulit mendapatkan kain ini. Waktu itu saya pernah beli di Oktober-November, kain motif buah sulit didapat. Kalau ada harganya mahal sekali. Jadi saya nunggu di Februari. Memang, quilting ini kalau nggak ngerti itu, cari kainnya saja sulit," kata ibu dua anak ini.
Lantaran bahan yang sulit didapat dan tingkat kesulitan pembuatannya yang tinggi itulah, Nisa juga tidak memproduksi quilt secara massal.
Dalam sebulan, ia hanya menghasilkan empat potong selimut. Ia dibantu oleh sejumlah karyawan untuk memenuhi pesanan quilt berbagai bentuk.
Nisa juga tidak menaikkan harga barang ketika mengikuti pameran. "Itulah yang kadang membuat bisnis kolaps, karena harga saat pameran dibuat lebih mahal," papar Nisa.
Nisa mengaku, awalnya ia tidak berniat untuk berbisnis quilting. “Sekedar hobi saja. Jadi karena sangat senang dengan macam-macam kain yang saya temukan, saya membelinya. Eh, nggak terasa, ternyata sampai 10 kontainer.” Ujarnya sambil tertawa.
Namun Nisa memberi saran bagi mereka yang ingin menggeluti bisnis ini.
“Mulai dari bawah saja dulu. Beli kain yang murah dulu. Kalau di Jakarta, kan ada di pasar Majestic dan tanah abang. Itu mungkin hanya perlu modal sekitar Rp 10 juta-an. Bikin satu selimut, setelah jadi dan dijual, bisa untuk tambahan modal berikutnya,” ucapnya.
Ia sendiri mengaku omzet setiap bulan fluktuatif. Tetapi rata-rata dalam sebulan ia meraup sekitar Rp 10-15 juta.
Karier Sebagai Pengajar
Ketekunan dan ketrampilan yang dimilikinya ternyata membuka peluang baru yang tak pernah diduganya sejak dulu. Nisa diminta menjadi tim pengajar di Departemen Perindustrian, dan menjadi pelatih ibu-ibu di rusun.
"Sekarang saya menjadi rekanan di Departemen Perindustrian. Selain melatih di rumah saya di Cipete, juga mengajar di empat rusun di Jakarta. Banyak yang sudah trampil, jadi sekarang ada tim ibu-ibu yang bisa mengerjakan orderan saya. Saya senang karena dapat member kegiatan yang menghasilkan bagi para ibu," imbuhnya.
Untuk jasa pengajar, Nisa menyamakan biaya pelatihan di mana saja. “Untuk basic biayanya Rp 2,1 juta, intermediate Rp 2,2 juta per orang per modul. Per modul itu untuk basic sebanyak 12 sampler 12 macam pekerjaan untuk waktu 7 minggu. Setiap minggu latihan satu kali.”
Nisa berharap,sesuai masukan suami, “Jangan pernah merasa tersaingi, kalau ada murid yang sama pintarnya dengan dirimu. Itu berarti kamu sukses. Kalau muridmu masih di bawah levelmu berarti kamu belum sukses. Itu kata suami saya. Saya merasa dia benar. Karena quilting ini adalah seni, bukan produksi.”
Kini sejumlah muridnya juga membantu pelatihan di Bandung, Rawa Bebek, Daan Mogot dan lainnya. “Saya bahagia dapat member peluang para ibu berkegiatan dan menghasilkan uang,” pungkasnya.(Albi Wahyudi)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU