
hariansuara.com – Persaingan dunia kerja di era globalisasi ini semakin ketat. Tak hanya dengan SDM lokal, namun juga SDM dari luar negeri.
Namun kini pendidikan dan gelar saja tak cukup. Keterampilan, ketekunan dan kepiawaian menemukan ide-ide kreatif, dapat membuka peluang dalam meraih masa depan yang bagus.
Sofia Rahayu atau Sofie, panggilan akrabnya, telah membuktikan hal tersebut.
Bekerja Sambil Belajar
Wanita mungil yang hobinya mendesain ini kini memiliki usaha kerajinan tangan. Membuat boneka, tas, switer dan aneka barang yang dapat dikategorikan sebagai souvenir.
Awalnya Sofie berprofesi sebagai stylist di bidang kewanitaan di sebuah media remaja.
“Saya aktif di bidang kerajinan tangan, fashion dan stylist,” tuturnya.
Sofie sendiri senang menjahit atau membuat kerajinan tangan lainnya, tetapi hanya sebagai hobi.
Namun suatu waktu, Sofie pindah kerja di pabrik boneka milik orang Korea di Jakarta.
"Saya mendapat banyak pengalaman berharga di sini,“ ujar Sofie yang kini memiliki perusahaan pribadi berlabel PT Aramis ini.
Tak menyia-nyiakan waktu, Sofie akhirnya memperdalam pengetahuannya dengan melanjutkan di bidang art design.
Memulai Usaha Kecil-kecilan
Usai menimba pengetahuan, Sofie mulai membuka usaha kecil-kecilan.
“Saya langsung bergerak membuat usaha sendiri. Waktu itu tahun 1991. Saya coba membuat boneka burung. Saya bikin sendiri polanya, lalu menjahitnya,” ujar Sofie.
Hasil karyanya itu, dibeli teman-temannya. Bahkan ada yang minta agar dibuatkan barang lain, “Mereka dapat memesan segala macam kerajinan tangan, untuk cenderamata, untuk kado ulang tahun, kado perkawinan dan sebagainya,” kenang ibu seorang anak ini.
Usaha kecil-kecilannya mulai berkembang, dari mulut ke mulut, antar teman.
“Pesanan mulai mengalir. Biasanya saya mematok jumlah pesanan minimal 25 buah. Harganya juga bervariasi, karena semakin besar cenderamata, semakin banyak membutuhkan bahan, akan semakin mahal pula harganya. Lama pengerjaan maksimal 10 hari,” katan Sofie.
Jerih payahnya dalam pemasaran berhasil, apalagi nampaknya nyaris tak ada saingan dalam usahanya ini.
Mengembangkan Pasar
Sofie kemudian merekrut karyawan seiring naiknya pesanan.
“Usaha saya semakin berkembang. Beberapa kantor memesan untuk acara seminar, hadiah tahun baru, doorprize, dan macam-macam lagi. Bentuk dan macamnya pun tergantung kemauan konsumen. Saya tinggal merealisasi seperti apa maunya.”
Ada saat-saat tertentu pesanan membludak. Tetapi ada juga saat-saat sepi tanpa orderan.
Sofie kemudian mengembangkan sayap. “Produk saya mulai masuk ke pasar Mangga Dua, pasar pagi dan toko-toko lainnya,” ceritanya.
Satu kunci yang membuat produk Sofie ini laris manis, “Saya senang mendesain. Jadi para pemesan itu mengungkapkan seperti apa bentuk yang dikehendaki. Nah, dari situ saya menuangkan lewat sampel, apa seperti ini. Kalau mereka tidak cocok, saya ubah lagi, nggak apa-apa sampai beberapa kali, asal desain itu pas dengan kemauannya. Nah, dengan cara itu, produk saya selalu eksklusif, tidak akan sama desainnya dengan yang ada di pasaran.”
Satu hal lagi kelebihan Sofie. Ketika calon pelanggan menanyakan apa bisa bikin ini atau itu, “Saya langsung jawab, bisa, bisa, bisa… Meski saya belum pernah membuatnya, tetapi saya anggap ini tantangan. Saya harus mampu menerima tantangan itu.”
Untuk pesanan dengan model yang khusus, kadang harganya lebih tinggi dari harga produk yang lainnya. “Ini dikarenakan saya harus memikirkan desainnya dan membuat sampelnya. Tetapi tentu saya tidak dapat seenaknya memasang harga terlalu tinggi, nanti pelanggan lari,” kilahnya, “Paling saya ambil keuntungan 10%-15% dari modal.”
Memasok ke Los Angeles
Hal itulah yang membuat para pelanggan merasa puas. Tak heran kalau pemilik PT Aramis ini kini memiliki 100 karyawan dan omzet ratusan juta per bulannya.
Lewat jaring pertemanan pula akhirnya produk Sofie berhasil menembus ke pasar luar negeri.
“Teman yang tinggal di Los Angeles tertarik. Ia kemudian memasarkan dengan label lain. Saya senang karena desain saya ternyata disukai pelanggan,” tuturnya.
Untuk pemasaran selanjutnya, Sofie menyerahkan sepenuhnya ke tangan para EO atau ke distributor.
“Saya berfikir lebih baik berkonsentrasi ke desain dan produksi saja. Saya tidak ada waktu untuk memikirkan pemasaran lagi.”
Ide sepertinya tak pernah mandek di pikiran Sofie, “Ide biasanya muncul saat saya jalan-jalan, lihat produk-produk yang ada. Lalu saya kombinasi, dipadu-padukan. Dengan jalan-jalan saya juga dapat melhat-lihat kecenderungan pasar seperti apa. Desain harus berubah terus, agar pasar tidak bosan.”
Modal 1 Mesin Jahit
Ketika awal membuka usaha, Sofie mengaku hanya modal 1 mesin saja. “Dan uang sekitar 10 juta rupiah untuk membeli bahan-bahan sekaligus, karena kalau eceran, jatuhnya lebih mahal. Nanti kalau barang laku, saya putar lagi untuk membuat produk berikutnya. Begitu seterusnya.”
Ketika usahanya makin berkembang, Sofie mendapat pinjaman dari Bank tanpa agunan.
“Kini modal harus ratusan juta karena sudah membesar,” sebut Sofie.
Dalam menghadapi pesaing, Sofie tak undur. “Desain kan berbeda. Kita harus kreatif kecuali kalau ada permintaan dari pemesan untuk membuat produk yang sama dengan produk yang lain,” tuturnya.
Sofie masih menyimpan obsesi untuk meraih omzet 1 miliar sebulan, dari omzet yang kini diraihnya sekitar 600 jutaan per bulan.
“Mudah-mudahan dapat tercapai meski agak pesimis, karena di depan mata, listrik bakal naik," ungkapnya, “Toh saya bersyukur punya usaha yang sesuai dengan hobi. Awalnya saya kan hanya cari makan saja, tak menyangka malah dapat membuka peluang kerja bagi orang lain,” pungkasnya. (Albi Wahyudi)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU