Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Chintami Atmanegara, Serius Terjun ke Bisnis Fesyen

Peluang Usaha
03 May 2017
Chintami Atmanegara, Serius Terjun ke Bisnis Fesyen

 

Jakarta – Bisnis fesyen memang sangat menggoda. Bahkan juga untuk artis sekelas Chintami Atmanegara, yang bertahun-tahun menyandang gelar sebagai penyanyi, pemain sinetron dan pemain film.

 

Sejak 4 tahun lalu, Tami begitu sapaan akrabnya, mulai terjun, aktif menjalankan bisnis busana ini. Mulai dari mendesain, hingga menjual di beberapa butik miliknya.

 

Namun ketertarikannya pada ajang busana ini bukan lantaran latah.

 

Sejak kecil Tami terbiasa melihat ibundanya menjahit.

 

“Waktu di SMP, saya sering membantu ibu. Ibu kan menerima jahitan di rumah. Jadi saya belajar seputar jahit menjahit itu dari ibu, Berdua dengan mbak Minati,” tuturnya di sela kegiatan Inacraft di Pameran Produk Kerajinan  Internasional di tanah air, Inacraft DI Convention Centre, Jakarta, Jumat.

 

 

Akrab soal jahit menjahit

 

Tak hanya menjahit, Tami juga belajar membuat pola, memotong bahan, memilih bahan serta menyulam dari kegiatan sang ibu yang berkaitan dengan jahit menjahit.

 

Ilmu yang sejak kecil ditularkan oleh sang ibu, berlanjut terus tanpa terasa. Yaitu saat Tami menjadi artis.

 

“Saya sering mendesain sendiri busana saya untuk tampil saat menyanyi. Ya modelnya, ya bahannya. Biasanya mbak Minati yang memberi masukan, tentang kerapian jahitan dan sebagainya. Jadi dunia desain sudah tidak asing lagi bagi saya. Saya tinggal beradaptasi, kalau dulu mendesain untuk diri sendiri, kini mendesain untuk pelanggan,” tutur adik dari Minati Atmanegara ini.

 

 

Berhijab memberi ide

 

Tami memulai langkah membuka usaha fesyen saat ia mulai berhijab. Hal itu dirasakannya saat kebutuhan baju-baju muslim begitu deras di pasaran mode Indonesia.

 

 

“Dunia mode untuk baju-baju muslim di Indonesia luar biasa pesatnya, luar biasa boomingnya. Bahkan banyak sekali negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Afrika, berbondong-bondong mencari baju muslim di Indonesia. Indonesia number one untuk baju muslim. Desainnya sangat kreatif dan desainernya sangat kaya ide,” paparnya.

 

Kini Tami telah memiliki dua brand, yaitu brand Chintami Atmanegara dan brand Nagara.

 

“Kalau brand Nagara, itu khusus batik dan kain tradisional, misalnya tenun, ikat. Tapi kalau brand Chintami Atmanegara, itu untuk busana yang bahannya sifon, sutra, brokat dan semacamnya.”

 

 

Masuk anggota APPMI

 

Tentang bahan, Tami berkreasi dengan bahan sesuai minatnya. “Bahan-bahan itu ada yang saya beli di China. Ada juga yang ngeprint sendiri, misalnya untuk motif bunga-bunga tropical. Batik juga begitu. Saya mendesain sendiri batik-batik ini. Ada batik Cirebon, ada batik Pekalongan, Alhamdulillah, banyak yang suka. Busana-busana saya sudah pernah tampil di fashion show Jakarta Fashion Week,” begitu Tami mengaku.

 

Meski terbilang masih baru di ajang bisnis busana, namun bagaimana pun juga, Tami tetap pede. Tak hanya itu, kreasinya ternyata juga diperhitungkan oleh para pakar busana lainnya. Ini terbukti dengan diterimanya ia masuk sebagai anggota APPMI.

 

“Alhamdulillah saya merasa cepat diterima. Saya sudah ditest oleh senior-senior di APPMI, yang sudah terjun 25-30 tahun di dunia fesyen. Mereka meneliti modelnya, jahitannya, dan alhamdulillah saya lulus menjadi anggota APPMI melalui kurasi,” beber Tami.

 

Hal ini tentu saja menambah rasa percaya diri Tami, yang semula merasa belum memiliki kemampuan setara dengan desainer yang lain.

 

“Empat tahun lalu saya masih betul-betul mendesain yang sangat sederhana. Orang tahunya saya sebagai penyanyi, pemain sinetron, akting dan lainnya. Tapi begitu di dunia desain, saya mempertaruhkan kemampuan saya. Saya tidak mau sekadar nama. Tapi saya harus benar-benar mampu. Makanya saya belajar-belajar dan belajar,” ungkap Tami bersemangat.

 

 

 

Kreatif dan mandiri

 

Ia tak segan turun tangan sendiri mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnisnya. “Dunia desain memang menyita waktu. Coba saja, kecuali mendesain, saya harus mencari bahan kainnya. Lalu berhubungan dengan penjahitnya, menerangkan model yang saya inginkan. Saya harus terjun sendiri, dan tidak dibantu dengan orang lain,” tuturnya.

 

Apalagi, menurutnya, busana itu tidak selalu berdiri sendiri. “Pasti kan ada aksesoris di bajunya. Baik berupa payet, atau renda, atau sulam. Semua itu harus dipadankan. Nah, itu yang makan waktu.”

 

Dengan kesibukannya di dunia fesyen ini, otomatis sejumlah kegiatan di bidang keartisan jadi agak terpinggirkan.

 

Meski begitu hingga kini Tami tidak berhenti dari dunia tarik suara. “Tapi hanya di event-event tertentu saja, misalnya undangan di acara kawinan atau di event show kantoran. Kalau di sinetron atau film, ya yang sifatnya stripping. Kalau yang syutingnya setiap hari, agak sulit bagi saya.”

 

Hal itu tentu saja dapat dimaklumi. Dengan kegiatan bisnis busananya, tak terkejar jadwal syuting yang menyita waktu dari pagi hingga tengah malam.

 

Harga salah satu busana hasil karyanya, dari tema tropical Tami membandrol Rp 6.500.000,- per piece. “Untuk tema satu ini, tropical, jenisnya macam-macam. Ada tunik, gamis, dan lainnya,” tutur Tami.

 

 

Tersebar hingga Hongkong

 

Saat ini koleksi Tami dipasarkan tak hanya di dalam negeri, namun telah merambah ke mancanegara, di antaranya  Hongkong.

 

“Untuk di luar negeri saya ada toko di Hongkong. Di Jakarta pun saya ada beberapa butik, yaitu di Kebayoran, Tebet, Fx lantai 3. Untuk koleksi Nagara, ada di Makassar dan Jambi,” ucap Tami, “Koleksi saya macam-macam, jadi tidak melulu busana muslim.”

 

Tami menilai, pameran Inacraft ini memang merupakan ajang yang sangat bermanfaat bagi para pelaku bisnis kerajinan.

 

“Di sini segala macam perlengkapan rumah tangga dan apa saja ada. Juga segala macam informasi produk kerajinan. Dari seluruh penjuru tanah air, tumplek di sini. Belum tentu kita sendiri bisa pergi ke Irian. Belum tentu kita bisa pergi ke daerah-daerah yang jauh. Pasti biayanya besar untuk mencari sesuatu hasil kerajinan mereka. Tapi disinilah di Inacraft tempatnya yang tepat untuk berburu segala sesuatu kerajinan antar daerah,” pungkasnya. (Albi Wahyudi)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X