
hariansuara.com, Medan – Konon nasib itu seperti roda. Tak selamanya bakal terus di bawah. Itu yang dialami oleh pria Medan bernama Syafriel Sikumbang. Selama ini ia hanya menggantungkan hidup dari keahliannya memperbaiki sol sepatu.
Sejak remaja Syafriel tak melanjutkan sekolah dan bekerja di bengkel sepatu. Tugas sehari-harinya, ya mereparasi sepatu yang rusak. Lama kelamaan ia juga andal membuat sepatu baru.
“Kalau ada bahan yang tersisa, saya bisa membuat sepatu wanita atau pria, sesuai dengan keinginan mereka,” ucapnya.
Sejak ia mulai pandai memperbaiki dan membuat sepatu, Syafriel bercita-cita memiliki usaha sendiri, tidak ikut orang. Namun hingga usianya beranjak dewasa, hal itu tak pernah kesampaian.
Merantau ke Malaysia
Pria berusia 60 tahun ini merasa kehidupannya mentok. Penghasilan hariannya pas-pasan, kadang malam sangat jauh dari yang diharapkan.
Merasa tak lagi memiliki harapan yang lebih baik, Syafriel pun merantau ke Malaysia. Ia ingin mengadu peruntungannya ke negera tetangga itu.
Meski ada banyak lapak yang juga membuka usaha reparasi sepatu, namun Syafriel tidak mundur. Sudah kepalang basah, ia harus tetap berusaha semampunya agar mendapat kehidupan yang lebih layak di sini.
Dengan berbekal kardus bekas ia menulis lapaknya dengan nama yang sudah dipakai oleh belasan tukang sol sepatu lainnya, yaitu Klinik Kasut. Yang bermakna Reparasi sepatu.
Nama unik hadiah orang tak dikenal
Rupanya nasib Syafriel belum juga berubah. Lapaknya sangat sepi. Sangat jarang orang datang untuk mereparasi sepatunya. Padahal lapak-lapak yang lain cukup punya banyak pelanggan.
Sampai suatu saat tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya. “Saya disuruh bos saya mengantar papan ini. Pasang saja di lapak Bapak,” katanya sambil menyerahkan papan yang bertuliskan `Mender of Lost Soles`.
Syafriel yang mungkin SD saja tak lulus, menerima papan itu meski ia tak tahu apa arti tulisan berbahasa Inggris itu. Ia hanya tahu bahwa hari-hari berikutnya, ada saja orang yang datang ke lapaknya. Karena hasil kerjanya rapi dan cepat, maka semua yang memakai jasanya merasa puas. Pelanggan pun makin bertambah dan nama lapaknya mulai dikenal.
Dari hasil kerja keras dan nasib yang tiba-tiba berubah karena papan nama yang tak diketahui artinya itu, Syafriel mampu memiliki toko sendiri.
Kini pria berusia 60 tahun ini, memiliki sebuah toko di Jalan Parames-wara, Banda Hilir, Meaka. Tokonya tetap bernama `Mender of Lost Soles`. Kadang pelanggan memelesetkannya menjadi `Mender of Lost Souls`. Kalau yang pertama berarti `memperbaiki sol sepatu yang hilang`, yang kedua memperbaiki ingatan atau semangat yang hilang`.
Nama unik itu adalah pemberian Winston Chan, seorang pembuat papan iklan.
"Nama itu seperti bermakna `saya menawarkan bantuan kepada mereka yang mencari kekuatan emosional`, Membantu pelanggan agar bangkit kembali," jelas Winston Chan, sarjana sastra yang telah membuka peluang bisnis sol sepatu Syafriel.
“Saya memberinya nama yang mempunyai makna bagus, agar usahanya juga berjalan bagus,” tuturnya.
Syafriel sangat berterimakasih pada penolongnya itu. Nama ternyata memiliki rahasia di baliknya.
Meski usahanya laris manis, Syafriel tetap mematok harga sepantasnya saja. Biaya untuk memperbaiki sepatu sebesar 2-5 ringgit. Atau sekitar Rp 6.200 - 15.500 untuk pengeleman, Kalau penjahitan sekitar Rp 46.700. Dan untuk mengganti sol sepatu sekitar 40 – 45 ringgit atau Rp 125.000 - 140.000.
"Terkadang tidak saya pungut bayaran, jika hanya memperbaiki lubang kecil," tambahnya. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU