Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Mendidik Karakter Anak Menjadi Generasi Rabbani 

Religi
13 Oct 2021
Mendidik Karakter Anak Menjadi Generasi Rabbani 

hariansuara.com, Bogor - Proses belajar tiada mengenal kata henti. Terus saja proses belajar itu berjalan pati, dari manusia dalam buaian ibu hingga kelak masuk ke liang lahat. Pun, menjadi orang tua mengharuskan Ayah dan Bunda terus meng-update diri dalam mendampingi anak mengikuti dan beradaptasi dengan perkembangan dan perubahan zaman. 

Demikian, ulas Hj Agustin Kurniawati S.Pd beberapa waktu lalu saat memberi pencerahan kepada para ibu anggota Majelis Nisaaul Jannah di Mushalla Darul Izzah, Griya Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Materi mendidik karakter anak menjadi Generasi Rabbani merujuk pada literatur bertajuk Serial Kajian Tarbiyatul aulad fil Islam karya Dr Abdullah Nasih Ulwan.

“Untuk menjadi seorang ibu sekaligus orang tua, kita harus terus-menerus mengikuti proses belajar seperti yang dilakukan dalam sesi berbagi ilmu parenting sekarang ini. Bagaimana kita, para orang tua, bisa mendidik putra-putri kita menjadi Generasi Rabbani, yakni dengan menerapkan pendidikan yang berkiblat kepada Al Qur'an dan Sunnah,” jelas Hj Agustin.

Penerjemahan simpelnya, ketika pandemi Covid-19 begitu dahsyat melanda negeri ini, anak-anak bersekolah secara daring yang berbasis jaringan internet. Mau tidak mau, agar bisa mendukung pendidikan anak, orang tua belajar menguasai teknologi informasi. 

Di antaranya, belajar operasional Zoom, kemudian dalam perkembangannya orang tua juga perlu sekali belajar Kinemaster, Canva, Youtube, Instagram sampai tik-tok. Sebab, aplikasi ini bisa memberi manfaat. Bak dua mata pisau, Tik Tok, misalnya, tidak melulu untuk joget atau menyanyi, melainkan juga sangat efektif digunakan sebagai media menyebarkan nilai-nilai yang positif. 

Dalam membangun Generasi Rabbani, diulas, bahwa orang tua wajib hadir mendampingi anak mengarungi tahap-tahap perkembangan dalam hidupnya. Diharapkan orang tua ikut ‘belajar bersama anak’ agar anak jadi berbesar hati, lebih semangat dan kian terpacu menyerap ilmu. Terutama ketika anak di usia PAUD, atau seperti kata psikolog perkembangan, di usia golden years, 0-5 tahun, otak anak ibarat spons yang mampu menyerap pengetahuan sebanyak apa pun.  

Untuk menjadikan anak Generasi Rabbani, digarisbawahi Hj Agustin Kurniawati, sejak dini orang tua mesti memperkenalkan kepada anak dasar-dasar moral yang akan membangun akhlak dan karakter anak. Bahwasanya keberadaan manusia itu terkoneksi dengan Sang Khalik. Konsepsi adanya malaikat yang mencatat perbuatan manusia, dan kelak berimbas pada kehidupan kekal nantinya.

Akhlak di sini keterikatan antara manusia sebagai ciptaan Allah dengan Sang Khalik. Anak yang terdidik dalam pola asah-asih-asuh seperti ini akan memiliki perangai dan tabiat (karakter) yang baik sebagai buah dari akidah (keimanan) yang mendalam dan religius. 

“Pendidikan ini bisa dimulai dari pembiasaan hal fundamental seperti bisa berterima kasih, menyatakan maaf, mengucapkan permisi, santun kepada orang yang lebih tua. Kebiasaan ini menjadi habit yang akan terinternalisasi di dalam kepribadian anak. Dari anak di masa analisa hingga ia mukhalaf (dewasa) dan siap mengarungi kehidupan ini,” imbuh Hj Agustin.

Kembali, saat anak di usia golden years, orang tua sebaiknya memberi anak stimulasi sebanyak-banyaknya. Syaraf otak anak akan menyambung dan menghubungkan stimulan-stimulan itu menjadi hal bermakna di otaknya.

Selain memberi ‘vitamin otak’ berupa stimulasi tadi, patut diperhatikan juga akan terpenuhinya gizi seimbang anak, terutama pada 1.000 hari pertamanya. Ini penting sekali agar si Buah Hati terhindar dari stunting (kekerdilan). Diketahui, Indonesia saat ini masih berjuang keras menekan angka stunting yang tinggi. Kembali, ibu menjadi ujung tombak untuk keluar dari masalah ini.

Mendidik Anak Sesuai Kondisi Zaman

Usia 6 tahun anak mulai bersekolah di PAUD. Namun, pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab penuh orang tua. Dalam mendidik anak, Hj Agustin mengutip pesan Rasulullah SAW, orang tua mesti menyesuaikan dengan kondisi zaman. Tidak bisa orang tua mengaplikasikan pola asuh yang diterimanya dari Ayah Ibunya kepada anak. Misalnya, Ayah Bunda menerima pola asuh otoriter dari orang tua yang lebih bicara lewat pukulan dan teriakan, tentu tidak bisa hal itu diterapkan di masa sekarang.

“Zaman sekarang, anak tidak bisa dikerasi, apalagi pakai acara pukul, main cubit, ngomel banyak-banyak. Ini akan menyebabkan trauma yang dalam pada anak. Lagi pula, teriak-teriak hanya menguras energi. Dalam kesempatan berikutnya, kita belajar teknik komunikasi yang efektif, ya Ibu-ibu,” tandas Hj Agustin.

Disimpulkannya, membangun karakter anak tidak berarti menanamkan karakter saja, melainkan harus dikaitkan dengan nilai religius. Nilai-nilai karakter dikoneksikan dengan Allah dan akherat. Pendidikan moral dikaitkan ke pendidikan iman atau keagamaan dapat meluruskan tabiat yang bengkok, memperbaiki kondisi jiwa, menghadirkan ketenteraman serta memperbaiki perilaku manusia.

Pakar pendidikan hingga filsuf Barat mengakui efektivitas pendidikan moral yang mengaitkan dengan Sang Khalik dan kehidupan akherat. Bahkan filsuf Jerman menyatakan, moral tanpa agama adalah kosong (nol). Pun, tokoh dunia Mahatma Gandhi mengakui agama dan moral yang lurus adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Agama memberi makan dan menumbuhkan moral pada diri manusia. (*) Maulana/Prabu      Foto: Henny Akram/Majelis Nisaaul Jannah

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X