
Jakarta - Medali emas yang diraih Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir memiliki makna bagi Richard Mainaky. Penantian pelatih asal Ternate ini untuk meraih emas dari ajang Olimpiade terwujud berkat kemenangan Tontowi/Liliyana di partai puncak.
Selama karirnya, pria 48 tahun itu berhasil mencetak pebulutangkis handal di sektor ganda campuran. Anak asuh yang dilatih Richard bisa memiliki titel juara dunia sampai kampiun All England.
Dari catatan hariansuaracom, sedikitnya ada lima pasangan ganda campuran Indonesia yang berhasil dididik Richard dan melejit prestasinya. Kelima pasangan itu adalah Tri Kusharyanto/Minarti Timur, Nova Widianto/Liliyana Natsir, Nova Widianto/Vita Marissa, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan terakhir pasangan ganda campuran berusia muda Praveen Jordan/Debby Susanto.
Dua pencapaian di Olimpiade sebelum raihan emas di Brasil diraih Trikus/Minarti dengan medali perak (Sidney 2000) dan Nova/Liliyana (perak, Beijing 2008).
""Puji Tuhan, kami bersyukur dengan emas yang dipersembahkan Tontowi/Liliyana. Saya ucapkan terima kasih kepada Tontowi/Liliyana. Sebelumnya pada dua olimpiade, ganda campuran dapat perak, kali ini emas oleh Tontowi/Liliyana," kata Richard seperti dikutip dari Badminton Indonesia, Kamis (18/8/2016).
Trikus/Minarti juga pernah menjadi juara dunia ganda campuran di tahun 1995. Begitupun Nova/Liliyana menjadi kampiun kejuaraan dunia pada tahun 2005 dan 2007.
Di luar Olimpiade, sederet prestasi dicapai anak didiknya. Misalnya pasangan Tontowi/Liliyana sebelum Olimpiade 2016, meraih tiga kali berturut juga di All England 2012 sampai 2014. Prestasi ini dilanjutkan Praveen/Debby pada 2016.
Kini, dengan prestasi Tontowi/Liliyana di Olimpiade Brasil, penantian Richard akhirnya tercapai. 16 tahun menunggu, ganda campuran Indonesia akhirnya meraih medali emas.
Mantap coach Richard, lanjutkan!
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU