
hariansuara.com, Yogyakarta - Pukul 4 sore, suara musik bosanova Jawa terdengar mengalun lembut dari Pendopo Lawas di Alun-alun Utara, Keraton Kesultanan Yogyakarta. Tampak angkringan-angkringan panjang telah terisi penuh dengan menu favorit, sekaligus the best of angkringan. Apakah itu?
Apa lagi kalau bukan oseng-oseng? Nah, Anda penyuka oseng teri, dipersilakan mengambilnya untuk teman santap nasi panas, atau nasi bakar yang bisa dipanaskan terlebih dulu. Barangkali Anda lebih suka oseng tempe, oseng soun, oseng kikil, atau oseng usus? Monggo, dipersilakan. Bagi Anda yang 'bernyali', tidak salah lagi, pilih oseng mercon yang sangat pedas ini. Dijamin, Anda akan ketaghihan oseng buatan Fino ini!


Di angkringan lainnya tak tanggung-tanggung, ada 30 jenis sate! Pilih sesuai selera Anda ya. Jangan lewatkan hidangan pencuci mulut untuk selesai makan. Ada jajan pasar tradisional yang 'sangat Yogyakarta'. Anda pernah mencicipi kipo? Enak sekali. Jajanan asal Kota Gede ini terbuat dari ketan, dan di bagian dalamnya diisi parutan kelapa yang dicampur gula Jawa. Atau Anda ingin jajanan yang gurih? Silakan ambil jadah manten yang rasanya tak kalah cantik dari penampilannya yang unik.
Tempat Makan yang Guyub untuk Semua
Sementara itu, meja kursi yang terjajar rapi di pelataran depan dan sisi Pendopo Lawas mulai terisi oleh para tamu dari berbagai kalangan. Memang, itulah target pasar dari konseptor sekaligus pengelola Pendopo Lawas, duo pekerja keras: Fina Permana Sari dan Denny Yusuf.
"Kami ingin Pendopo Lawas ini menjadi tempat yang guyub, nikmat bersantap bagi seluruh masyarakat. Bapak-Ibu yang mengajak putra-putrinya, karyawan sampai mahasiswa," jelas Fina, pengusaha muda kelahiran 28 Agustus. "Tak sedikit komunitas-komunitas dengan anggota ratusan orang buat acara di sini. Teman-teman Mas Denny, dari kalangan artis maupun aktivis kerap singgah di sini."
Memberi Berkah untuk Semua
Untuk urusan kuliner, Fina yang terakhir menjadi Head Floor di Mary Anne Cafe itu total sepenuhnya sepenuhnya mengurusi. Sedangkan Denny menangani urusan operasional Pendopo Lawas.
"Prinsip kami manajemen kami dalah memberi berkah untuk semua. Lauk oseng diproduksi sendiri, tetapi itu kami serahkan kepada Ibu-ibu PKK untuk memasak. Begitu juga untuk 30 jenis sate dan aneka jajanan pasar tradisional dipercayakan kepada supplier. Tentu semua dilakukan tidak dengan sembarang, melainkan melalui proses seleksi yang ketat, dari rasa hingga kebersihan yang terjamin," ujar Fina, yang dibantu 8 karyawan dalam mengelola Pendopo Lawas.
Prinsip tersebut juga diaplikasikan dalam kebijakan manajemen dan praktik rekrutmen karyawan. Selain gaji, karyawan beroleh bonus dari omzet bersih, setelah dikeluarkan untuk belanja dan biaya operasional. Juga manajemen menilai penting menyisihkan dari omzet untuk menabung Tunjangan Hari Raya (THR), sehingga hak karyawan terpenuhi dengan baik. 

"Saya bersyukur Mama mendidik saya dengan disiplin dan keras. Terutama menyangkut karyawan, Mama selalu ingatkan, saya harus punya hati. Loyalitas karyawan itu tidak ternilai, kata Mama. Makanya, saya selalu perhatikan kemaslahatan mereka, memberi kebebasan berekspresi, seperti ketika ada yang mau pakai celana pendek untuk kemeja batiknya, ya silakan. Saya juga tak segan turun ke dapur kalau tamu sedang berlimpah," tambah Fina tentang ibundanya, Ariyanti.
Denny menambahkan, memberi berkah untuk semua, di antaranya merekrut anak-anak yang berhijrah dari zaman nge-gang dan kebandelan remaja. Tak heran jika Anda singgah ke Pendopo Lawas, akan bertemu dengan para waiter yang bertato tetapi santun, beretika dan terampil dalam bekerja. Wajah mereka juga sumringah dan bersahabat. Keberkahan ini membuktikan, bahwa semua orang punya hak dan bisa untuk maju.
Berkat kerja sama yang solid, saling dukung dan doa maka Pendopo Lawas di usianya yang baru menjelang dua tahun ini sudah begitu menempel di benak banyak orang. Boleh dibilang, Pendopo Lawas menjadi ikon wisata kuliner Yogya Zaman Now. Manajemen boleh modern, tetapi nafas tradisional yang sarat dengan nilai keluhuran dan kesantunan itu tetap hadir terjaga.
"Alhamdulillah, saya mensyukuri kesempatan untuk mewujudkan impian saya total mengelola di Pendopo Lawas ini. Silakan singgah ke Pendopo Lawas. Nikmati santapan angkringan dengan konsep a la buffet. Lauk pauk dari oseng hingga sate bisa dinikmati dengan nasi putih hangat maupun nasi bakar yang bisa dihangatkan. Kami buka dari pukul 4 sore hingga 12 malam. Semuanya halal, higinis dan terjaga kualitasnya," ujar Fina, yang sebelumnya meniti karir di Cafe Marry Anne, dari bawah sebagai waitress, lalu naik ke jenjang Captain dan Head Floor, lalu di bawah General Manager mengurusi cabang cafe di 4 kota.
Transformasi Positif Alun-alun Utara
Alun-alun Utara di area Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu kini tak lagi tampak kumuh, semrawut dan tak terurus. Setelah ditata sesuai kebijakan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwana X, alun-alun utara memperoleh wajah cantiknya kembali sebagai ikon budaya leluhur Keraton Yogyakarta. Kebijakan Gubernur lainnya yang disambut baik adalah mengizinkan masyarakat untuk berjualan di sisi-sisi pinggir alun-alun , meski sejatinya kawasan itu bukan area berdagang.
Sebuah kerja sama yang bagus antara FKKAU (Forum Komunikasi Kawasan Alun-alun Utara) dengan pihak-pihak terkait serta masyarakat. Berpuluh angkringan yang dulu tersebar berantakan di pelataran alun-alun maupun di balik tembok tinggi diseleksi, dikelompokkan dan ditata di pinggir atas trotoar. Jalan yang semula one way dibuat menjadi two ways sehingga tidak menyebabkan kemacetan yang berarti. 
Alun-Alun Utara seluas 150 x 150 meter dengan dua pohon beringin besar berpagar di tengah, Kyai Dewandaru dan Kyai Wijayandaru kelak rencananya akan dikembalikan ke seperti masa lalu. Paving block diangkat, diganti dengan pasir putih. Akankah di sekeliling Alun-alun Utara akan ditanami kembali 63 Pohon Beringin yang melambangkan umur Nabi Muhammad SAW? Waktu yang akan menjawab!
Yang pasti, setelah berwisata ke destinasi wisata lain seperti Keraton Yogyakarta, Masjid Gedhe, Benteng Vredeburg, dan kawasan Malioboro, Anda dapat singgah ke Pendopo Lawas di Alun-alun Utara. Ingin bersantap berat atau sekadar makan jajanan kecil dan secangkir kopi panas? Hmm nikmatnya. Atau pesan Es Cokelat yang digandrungi banyak pelanggan di sana, why not? Selamat wisata kuliner sambil menikmati keluhuran warisan budaya Yogyakarta. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU