
hariansuara.com, Yogyakarta - Yogyakarta, kota yang menjadi surga bagi pecinta kuliner Nusantara. Bagaimana tidak? Gudeg yang melegenda, di sini tempatnya. Bagi penggemar olahan kambing, ada Sate Pak Pong yang menyajikan sate klatak, juga digemari banyak orang hingga meluas keluar Jawa Tengah sendiri.
Memang, di Daerah Istimewa Yogyakarta ini, kreativitas masyarakatnya dalam hal kuliner lumayan tinggi. Selalu saja muncul jenis masakan baru yang unik dan langsung booming! Sebut saja, Sego Kucing. Nasi dibungkus dalam porsi imut sekali dan dimakan dengan sate, telur dadar atau oseng teri, tinggal pilih. Begitu membumi dan merakyat. Buktinya, Sego atau Nasi Kucing ini pun menular sampai Jakarta. 
Oseng Mercon yang Sensasinya 'Meledak'
Nah, ada lagi yang hariansuara.com temukan di Kota Yogyakarta, yaitu oseng mercon. Salah satu penyaji lauk nikmat sebagai teman makan nasi ini adalah yang dijajakan oleh Pakde Tanto (61 tahun), di Jalan KH Ahmad Dahlan. Persisnya, di sisi RS PKU Muhammadyah atau seberang kantor BCA KCP Ahmad Dahlan. Tak jauh dari perempatan Jalan Malioboro yang tak pernah tidur itu.
Pukul 4 sore, Pakde sudah ada di lokasi, mulai menyiapkan jualannya. Seperti tertulis di gerobaknya, Anda bisa menikmati nasi gudeg komplet. Tinggal pilih lauk kesukaan Anda. Cukup lengkap variasinya, seperti sambal goreng kerecek, opor ayam, tahu, hati ampela. Ayam bakar dan mangut lele ada juga. Enak semuanya.

"Oseng mercon ini terbilang baru saya menjualnya dibandingkan gudeg ya," ujar Pakde yang sudah 33 tahun lamanya berjualan nasi. Dulu ia berdagang nasi berdua dengan Bu Titik, mendiang istrinya. Kini, Pakde dibantu seorang asisten yang bertugas menyiapkan minuman.
"Oseng mercon ini olahan daging yang dimasak nyemek. Sesuai namanya, rasanya pedas sekali. Daging dipotong kecil, lalu dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih, diberi gula merah, salam, langkuas atau laos dan garam sesuai selera. Yang seru, perbandingan antara daging dan cabai rawit merahnya, 2 banding 1. Semisal memasak 1 kilogram daging, cabe rawit merahnya setengah kilogram sendiri. Rasanya, ya pasti meledak seperti mercon. He he he."
Pelanggan Harian hingga Tahunan dari Banyak Kota
Omong-omong, adakah yang suka dengan oseng mercon? Mengejutkan, banyak, kata ayah dari empat anak dan Mbah dari 7 cucu. Bahkan sekarang, dengan hadirnya oseng mercon di dagangannya itu, justru semakin ramai pembeli. Ada pelanggan yang datang harian, mingguan, atau tahunan.
"Saya pernah kedatangan pembeli dari Kalimantan. Dia tanya, 'Pakde ingat nggak saya saya?' Wah, maaf sekali, saya tidak ingat semua pelanggan, satu per satu. Rupanya dia dulu kuliah di Yogya, dan sekarang tinggal dan bekerja di Kalimantan. Setahun sekali dia pasti datang ke sini, dan mampir makan nasi gudeg dan oseng mercon, duduk lesehan di tempat ini," ujar Pakde Tanto, ndongeng. 
Bahkan waktu hariansuara.com singgah, mencicipi oseng merconnya yang laris manis itu, ada rombongan anak muda datang, mengerumuni gerobaknya. Macam-macam, ada yang minta diraciki nasi gudeg ayam bakar, ada yang pakai lauk sambal kerecek hati ampela. Jelas, kalau mereka sudah hapal benar makanan yang dijual Pakde. Rupanya mereka datang berombongan dari Bendungan Mulur RT.03/04, Bendosari, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah.
"Saya pakai oseng mercon, ya Mbah," ujar Oki Saputra, yang menjadi ketua komunitas yang diberi nama Pengaco Crew. "Kami memang langganan lama angkringan Si Mbah. Kalau ke Yogya, ya pasti njujug makan di sini. Seperti tadi pagi datang, lalu sempat muter-muter ke Gua Cemara, Paris (Parangtritis--Red) dan Malioboro, dan sebelum pulang, kami makan dulu di sini. Sensasi pedas sambal goreng krecek dan oseng mercon si Mbah bener-bener bikin ketagihan."
Nah, Anda berkesempatan datang ke Yogya, silakan singgah di Lesehan Bu Titik, adu nyali dengan makan Oseng Mercon Pakde Tanto. Rasakan pedasnya yang 'meledak-ledak'! (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU