
Tanjung Kumbang atau warga setempat menyebutnya dengan nama Mulut kumbang, terletak diantara Pulau Alor di Desa Alor kecil dan Pulau Kepa Kecamatan Alor Barat Laut Kabupaten Alor.
Ada kejadian alam setiap tahunnya di bulan Mei dan September yang berlangsung selama dua hingga tiga hari berturut-turut di tempat ini, yakni perubahan suhu air laut menjadi dingin.
Perubahan tersebut, ditandai dengan datangnya gerombolan ikan lumba-lumba dan burung pemakan ikan untuk bermain di antara Pantai Alor Kecil dan Pulau Kepa tersebut.
Selang waktu dua jam dari gejala awal tersebut, dari bagian tanjung perairan laut Alor Kecil muncul penguapan air laut. Penguapan tersebut menandakan suhu air laut mulai dingin.
Penguapan berawal dari dasar tengah laut di wilayah Tanjung Kumbang kemudian merata hingga permukaan laut dan menjangkau sampai di pesisir pantai Makasar, Desa Alor kecil.
Saat kejadian berlangsung, umumnya masyarakat berdatangan ke Pantai Makasar, Alor Kecil. Mereka berdatangan menggunakan perahu dan memegang tombak kecil serta jala, untuk menangkap ikan di laut tersebut.Biasanya jika air laut telah berubah suhu menjadi dingin maka ikan-ikan dari dasar laut akan kehilangan daya tahan tubuh dan naik mengapung di permukaan air laut.
Zulkifli Naesaku (2017) dalam buku Menuju Jalan Pulang menjelaskan, Laut Mulut Kumbang dianggap keramat oleh masyarakat setempat dikarenakan airnya yang dingin melebihi es.
Suku Uma sina dan Pelang Serang, mempercayai bahwa fenomena tersebut terjadi karena adanya pertemuan antara penjaga laut yang merupakan nenek moyang mereka.
Konon, terdapat hubungan antara penguasa laut perairan desa Alor Kecil dan penguasa laut Pantai Selatan, Jawa. Ketika kedua penguasa laut ini bertemu maka seketika laut menjadi dingin.
Seramnya Tanjung Kumbang dengan segala mitos dan juga fakta pusaran arusnya yang mampu menyedot kapal ke dasar laut tersebut kini menjadi salah satu titik destinasi wisata laut di Kabupaten Alor.
Dari Kota Jakarta atau kota besar lain untuk bisa sampai ke Tanjung Kumbang, lebih mudah naik pesawat ke Kupang lalu transit. Dari Kupang langsung naik pesawat baling - baling ke Bandara Mali, Alor.
Selain kejadian arus dingin, ada kegiatan lain yang bisa dilakukan, yakni Diving dan Snorkeling di Pulau Alor.
Keindahan alam bawah laut di Taman Laut Selat Pantar, Pulau Alor sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan para wisatawan menjulukinya sebagai Karibia-nya Indonesia meskipun dalam hal terekspos masih kalah pamor dengan Komodo dan Raja Ampat.
Perairan di sekitar Selat Pantar merupakan pertemuan arus dari Laut Sawu dan Laut Banda. Aneka ragam biota laut hidup di Taman Laut Selat Pantar ini. Plankton, soft coral, hard coral, ikan-ikan karang warna warni, nudibranch, penyu, sampai ikan-ikan pelagis menjadi penghuni perairan Pulau Alor.
Kearifan lokal masyarakat juga turut berperan besar dalam kelestarian alam bawah laut sehingga sampai sekarang masih alami dan terjaga ekosistemnya. (Marzuki Tambe)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU