Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

Batik Ciprat Tak Kalah Memikat

Wisata
27 Apr 2017
Batik Ciprat Tak Kalah Memikat

 

hariansuara.com - Batik, telah sangat akrab bagi masyarakat tanah air. Bahkan penggemarnya telah merambah ke luar negeri. Dan semakin banyak peminat batik, para perajinnya semakin kreatif dalam menciptakan batik-batik modern dengan berbagai teknik.

 

Selama ini batik yang mendominasi pasaran terdiri dari 3 jenis batik. Yaitu batik cap, batik tulis dan batik printing.

 

Batik tulis, harganya relatif lebih tinggi, karena pembuatannya lebih ekslusif, satu persatu, memakan waktu lebih lama.

 

Dan kini perkembangan batik tiba pada munculnya teknik pembuatan lain, yaitu batik ciprat.

 

Batik ciprat hampir sama pembuatannya dengan batik jumputan.

 

 

Dimulai dari Garut

 

Batik ciprat ini mulai terlihat banyak dipasarkan di galeri-galeri batik di Garut. Umumnya, batik jenis ini sudah dibuat menjadi pakaian jadi. Otomatis harganya lebih mahal dari batik-batik cap ataupun printing lantaran proses pembuatannya lebih lama.

 

Berbeda dengan batik Solo atau Yogya yang mempertahankan warna klasik sogan, batik ciprat lebih berani dengan warna. Dan itu yang menjadi andalan batik ciprat, lukisan abstrak, kaya warna.

 

Batik ciprat ini dibuat dengan mencipratkan beragam warna pada sehelai kain, warna-warna inilah yang nanti bakal menjadi dasar dari kelanjutan batikannya`.

 

 

Bukan canting

 

Usai ditutup dengan aneka warna tersebut, maka tahap berikutnya adalah proses pengeringan.

 

Setelah warna dasar jadi, mulailah tahap berikutnya, membatik. Untuk batik ciprat ini, alat yang digunakan bukan canting seperti umumnya mematik. Namun bisa menggunakan lidi dan sendok.

 

Untuk menggambar motif garis yang tidak merata, digunakanlah lidi. Sedang sendok berfungsi untuk memunculkan motif bulat abstrak.

 

Seperti umumnya membatik, maka lidi dan sendok ini akan dicelupkan dulu ke dalam `malam` atau lilin batik. Baru kemudian dicipratkan.

 

 

Mulai bertambah kota-kota batik lainnya

 

Kini batik ciprat mulai merambah ke kota-kota batik lainnya. Tentu saja dengan motif yang berbeda satu sama lain. Kalau di Garut, para perajin memilih batik ciprat motif domba khas Garut yang rumit, maka di kota lain berbeda pula.

 

Yogyakarta dan Lampung mulai menguasai teknik batik ciprat dengan kreasi yang berbeda. Masing-masing memiliki kekhasan sesuai budaya daerahnya.

 

Seni batik ciprat ini kini mulai diajarkan pada siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB). Sementara itu, di Semarang diadakan pelatihan khusus membuat batik ciprat bagi anak-anak jalanan sebagai media positif pengembangan bakat.

 

Batik-batik ciprat hasil karya penyandang disabilitas juga pernah dipamerkan pada Festival Budaya Dewi Sri Simbatan di Magetan. Penggemarnya mulai meluas karena cantik dan ceria warnanya. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X