Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

Di Masjid Iqaluit Matahari Kutub Utara Bersinar 22 Jam

Wisata
28 May 2017
Di Masjid Iqaluit Matahari Kutub Utara Bersinar 22 Jam

 

hariansuara.com, Nunavut, Kanada– Mesjid Iqaluit yang sangat ditunggu-tunggu para muslim di Nunavut, kota terpencil di Kutub Utara ini akhirnya selesai dibangun setahun lalu.

 

Di laman FB Masjid Iqaluit kemarin, Wakil Presiden Asosiasi Islam Nunavut Muhammad Wai memberikan informasi. Bahwa mulai awal puasa, acara buka puasa bersama serta kegiatan taraweh diadakan rutin sepanjang bulan Ramadhan. Para muslim dapat melaksanakan kegiatan tersebut bersama-sama serta bergotong-royong memikul dananya..

 

Apa sih uniknya kota Iqaluit ini? Iqaluit adalah ibu kota wilayah Nunavut. Nunavut adalah wilayah paling utara Kanada, sekitar 20 persen dari luas Kanada. Wilayah ini memangku kutub Utara. Dan Iqaluit adalah satu-satunya kota yang paling dekat dengan Arktik, kutub Utara.

 

Disini salju selalu ada sepanbjang tahun. Matahari tak pernah tenggelam pada bulan Juni dan Juli. Tak kurang dari 22 jam matahari selalu menampakkan diri sehingga cuaca rasanya tak pernah malam. Terang terus. Hanya pada akhir Desember, matahari muncul sekitar 6 jam saja.

 

Dinginnya kadang dapat sangat ekstrem karena bisa mencapai minus 53 derajat Celsius. Pada musim dingin rata-rata tak kurang dari minus 34 derajat Celsius.  Iqaluit benar-benar terpencil. Tidak ada satu pun kota di Kanada atau di bagian mana pun di dunia, yang menghubungkan jalan darat dengan lokasi dengan salju abadi ini. Satu-satunya jalan hanya lewat udara. Kapal laut  mungkin bias namun terkendala dengan laut yang selalu membeku. Jadi, pilihan ke kota tersebut adalah dengan pesawat terbang.

 

 

Itu mengapa, sang manajer pembangunan masjid, Guisti sangat mengapresiasi para pekerjanya yang cukup tangguh di bawah tekanan cuaca yang berat. Semua bahan bangunan sekecil apapun, harus dikirim  menggunakan pesawat terbang.  Dan di kota itu tidak ada pengangkut alat berat, sehingga segala macam bahan bangunan dikerjakan dengan tenaga manusia.

 

Kota Iqaluit dihuni hanya sekitar 8000 jiwa, kebanyakan adalah penduduk asli Inuit.  Mereka hanya bias berbahasa daerah, hanya sepertiganya yang mampu berbahsa Inggris.

 

Sebagian penduduk asli Inuit pun mulai memeluk Islam. Makin hari makin bertambah jumlahnya. Karenanya kebutuhan untuk membangun sebuah pusat Islam menjadi tidak terelakkan lagi. Sebagai tindak lanjut, pada 2009 dibentuklah Islamic Society of Nunavut (ISN) yang bertujuan untuk mengurus peribadahan dan menjalankan pendidikan agama.

 

Sumbangan dari seluruh dunia

 

Masjid Iqaluit dibangun dari sumbangan umat muslim di seluruh dunia. "Untuk umat Islam, terutama di kota-kota terpencil di Kanada, masjid merupakan pusat kehidupan sehari-hari," kata Hussain Guisti, manajer dan bendahara dari Zubaidah Tallab Foundation yang bermarkas di Winnipeg selalu pengelola proyek.

 

Bangunan masjid tersebut memiliki dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk pertemuan sedangkan lantai kedua digunakan untuk ibadah.

 

 

Ide untuk membangun masjid di kota terpencil ini muncul dari Asif Ali, ketua dari Islamic Society of Nunavut (ISN). Ali mengundang Guisti setelah melihat sumbangsih Guisti dalam pembangunan masjid paling utara lainnya di Inuvik, ahun 2010.

 

Pembangunan masjid ini merupakan kerja sama ISN dan Yayasan Zubaidah Tallab. Masing-masing berusaha mencari dana untuk pembangunannya.

 

ISN bertugas membebaskan tanah yang akan digunakan untuk masjid. Lokasinya di sebelah Road to Nowhere, membeli material, mencari sumber air, dan mengurus perpipaan. Total dana yang ditanggung oleh ISN adalah $200 ribu. Sisa dananya ditanggung oleh Yayasan Zubaidah Tallab.

 

Pembangunan masjid di Iqaluit ini jauh lebih sulit. "Karena tidak ada peralatan berat, maka proses bongkar muat, perubahan mendadak, dan penambahan sesuatu akan lebih menantang. Namun karena yayasannya telah sukses mendirikan masjid-masjid lain di utara Kanada, seperti di kota Thompson di Manitoba, Guisti yakin ia bisa mengatasi tantangan di Iqaluit.

 

Mimpi menjadi kenyataan

 

Islamic Society of Nunavut mencantumkan nama ulama Dr. Abdullah Hakim Quick sebagai daftar penyumbang. Quick membuka laman donasi secara daring dengan harapan dapat mengumpulkan 100 ribu dolar. Hanya dalam waktu seminggu, pengumpulan sumbangan melalui daring ini telah mendapat bantuan 62 ribu dolar dari seluruh dunia. Ketika seluruh dana dikumpulkan, 800ribu dolar tersedia biaya pembungan masjid Iqaluit.

 

 

Sejak masjid dibuka tahun 2016, warga Iqaluit menyambut komunitas Muslim dengan tangan terbuka.

 

"Kami memiliki umpan balik yang sangat bagus dari penduduk lokal. Tidak hanya dari kalangan Muslim tapi juga dari kalangan non-Muslim. Mereka sangat senang dan mereka tidak memiliki masalah dengan kami. Dan sama dengan kita, kita tidak memiliki masalah dengan tetangga kita atau agama lain di Iqaluit ini. "

 

Meneurut cbc.ca sejak masjid Iqaluit resmi didirikan, tidak hanya untuk shalat, masjid ini juga digunakan sebagai pusat komunitas muslim yang bisa menampung hingga 100 orang. Mereka dapat mengkaji ilmu Islam dan berdiskusi. “Jika Anda dapat membangun sebuah masjid di ujung kutub seperti Iqaluit, maka Anda dapat membangun di tempat lain di manan pun planet ini,” ujar Hussain Guisti, Manajer Umum Zubaidah Tallab Foundation.

 

Zubaidah Tallab berharap dengan adanya masjid ini akan mendorong lebih banyak keluarga muslim untuk pindah ke Iqaluit. Selain masjid, mereka juga membangun pusat makanan didekatnya. Wakil Presiden Asosiasi Islam Nunavut Muhammad Wai mengatakan ini merupakan sebuah mimpi umat Muslim yang jadi kenyataan. “Kita tidak saja bias shalat berjamah, namun juga dapat mendidik keluarga dan anak-anak secara Islami.”

 

Bahakn lebih dari itu, masjid ini ternyata mampu menjadi wadah kegiatan social, pernikahan, dan juga penampungan orang-orang yang membutuhkan bantuan. "Bagi umat Islam di sini, di belahan bumi barat, di utara yang jauh dari mana pun, masjid adalah segalanya," tegas Guisti. (foto Tammy Gaber)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X