Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

Di Rusia Berbuka, Maghrib, Isya, Taraweh dan Sahur Dilakukan Serentak

Wisata
31 May 2017
 Di Rusia Berbuka, Maghrib, Isya, Taraweh dan Sahur Dilakukan Serentak

 

hariansuara.com, St. Petersburg - Di Rusia, kegiatan ibadah puasa bagi para muslim sangat istimewa. Betapa tidak? Acara berbuka, maghrib, isya, taraweh, sahur, imsak dan subuh dilakukan nyaris serentak. Ini terjadi di kota-kota Rusia yang berada di utara, termasuk St Petersburg, dulu bernama Leningrad. Kok bisa begitu?

 

St. Petersburg adalah kota terbesar kedua di Rusia, setelah Moskow. Jaraknya 687 km dari Moskow, sembilan jam kalau ditempuh dengan kereta api.

 

Muslim di kota ini apabila menemukan saat puasa pada akhir Mei hingga Juni, maka  akan  mengalami puasa yang sangat panjang. Tak kurang dari 21 jam setiap harinya. Otomatis, saat yang tersisa untuk mahgrib, berbuka, isya, taraweh, sahur dan imsak hanya 3 jam saja.

 

“Semua kami lakukan dengan tergesa-gesa untuk mengejar waktu tersebut,” tutur seorang pelancong Asia Tenggara yang menikmati puasa di Rusia, dalam sebuah lamannya.

 

 

Tengah malam matahari terang benderang

 

Maklum, karena rotasi bumi, maka di St. Petersburg tengah malam tetap benderang. Mereka menyebutnya sebagai White Night atau Malam Putih. Fenomena alam ini sangat menakjubkan dan menjadi daya tarik para wisatawan.

 

Itu kenapa para muslim di sana mengaku melakukan shalat tahajud saat matahari tengah bersinar terang. Karena di St. Petersburg selama musim semi, matahari tak pernah terbenam. Selalu ada jingga di ufuk barat.

 

Menurut para muslim di St Petersburg, selama musim semi, matahari memang bersinar 24 Jam. Musim semi berlangsung selama dua bulan, yaitu dari 22 Mei - 22 Juli.

 

 

Islam adalah gaya hidup mereka

 

Bagi para umat muslim di kota ini, bulan puasa yang jatuh pada musim semi ini sangat menantang, demikian yang ditulis oleh CNN. Dalam Al-Quran puasa Ramadhan dikecualikan bagi umat yang sedang sakit, musafir, wanita yang tengah menstruasi, untuk tidak berpuasa. Akan tetapi sepertinya tak ada aturan jelas tentang adab berpuasa di negeri dengan matahari yang enggan tenggelam ini.

 

Namun toh, para umat muslim di sana, tetap melaksanakan ibadah puasa dengan khidmat. “Muslim di sini memandang hal ini sebagai ujian,” kata seorang pegawai Pusat Ibadah Muslim Wilayah Barat Daya dan St. Petersburg, dilansir dari harian Guardian.

 

“Muslim di sini harus menunggu 21-22 jam untuk berbuka puasa. Mereka hanya punya waktu untuk makan selama tiga jam hingga tiba imsak. Tapi ini bukan halangan bagi kami. Islam sudah menjadi gaya hidup. Bagi kami, berpuasa sama dengan bangun di pagi hari lalu menggosok gigi.”

 

 

Seorang muslimah, Yelizaveta Izmailova, pegawai sekolah yang berasal dari wilayah Ingusethia, menceritakan dia dan keluarganya berpuasa dengan mengikuti jadwal yang dikeluarkan oleh masjid besar St. Petersburg.

 

“Bulan ini, menunggu waktu untuk berbuka memang sangat lama. Subuh pada pukul 02.00 dinihari, Dan maghrib sekitar jam 22.00,” ujar Izmailova.

 

Dia menjelaskan maghrib biasanya tiba selambat-lambatnya pukul 22.30 pada bulan Juni. “Tentu saja, ini beban berat bagi tubuh kami sebagai manusia. Tetapi setiap umat muslim di sini tetap memilih berpuasa dengan ikhlas."

 

Meskipun tidak ada jumlah pasti umat Muslim di St. Petersburg, dua masjid utama di kota itu tahun lalu didatangi oleh 42 ribu umat untuk shalat Idul Fitri.

 

 

Aroma roti dan kopi sangat menggoda

 

Dari beberapa kisah yang didapatkan, ada sejumlah muslim yang bekerja sebagai buruh, terpaksa tidak berpuasa karena alasan keselamatan. Banyak muslim di St. Peterburg adalah pendatang dari bekas Uni Soviet di Asia Tengah dan Kaukasus. Mereka bekerja di proyek-proyek pembangunan dan industri dengan gaji rendah.

 

“Kami tak mampu berpuasa dengan kondisi seperti ini, beda ketika kami berada di negeri kami sendiri, yang waktu puasanya tidak sepanjang ini,” kata mereka.

 

Bagi muslim yang datang dari negara lain ke St. Petersburg pada bulan puasa, memang suasananya sangat menantang. Begitu yang dituturkan oleh seorang muslim yang berasal dari Asia Tenggara dalam FB nya.

 

 

“Di St. Petersburg penduduknya mayoritas non Islam. Jadi jangan heran saat berpuasa di mana-mana kita menghirup aroma roti yang lezat atau atau aroma kopi. Kita harus menunggu lebih dari 18 jam untuk menikmati hidangan tersebut. Keadaan tersebut, menurutnya, gampang menyebabkan tenggorokan mudah berasa haus dan lapar.

 

“Ini tantangan berat yang harus dilewati para muslim yang berasal dari luar negara ini,” tuturnya.

 

Dia juga menceriterakan harus naik angkutan umum, dan tidak berjalan kaki seperti biasanya, “Untuk menghindari cepat lelah dan lapar. Meski ongkosnya jadi mahal, tak apalah demi terpenuhinya puasa Ramadhan,” ujarnya.

 

Jangan bandingkan kota ini dengan kota-kota di Indonesia, yang di segala sudut terdengar suara adzan, meskipun terkadang dari TV.

 

“Di sini tidak ada adzan. Jadi pandai-pandailah mengingatkan diri sendiri waktunya shalat. Tetapi berpuasa 10 jam atau 22 jam, sama nikmatnya bagi para muslim di sini. Allah SWT itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena suhu sangat sejuk, maka tantangan berat itu mampu dilewati dengan gampang. Sudah puluhan tahun bahkan berabad-abad hal ini dilakukan, dan tak menyurutkan niat ibadah puasa para muslim.” Subhanallah!” (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X