
Jakarta – Malang tidak hanya dikenal dengan tempat wisata atau apelnya saja. Kota ini juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kota lainnya di Indonesia. Ya, Galeri Malang Bernyanyi (GMB) atau Museum Musik Indonesia, bisa dikatakan GMB ini merupakan satu-satunya tempat di negeri ini yang peduli untuk mendokumentasikan rekam jejak musik di Indonesia.
Memang, gagasan pendirian sebuah museum musik sudah lama dan sering dilontarkan oleh berbagai tokoh di media. Namun hanya sebatas hitam diatas putih alias tidak ada wujudnya. Hal ini lah yang lantas menjadi motivasi para pendiri GMB untuk membuat wadah dan turut memelihara dokumentasi sejarah musik di Indonesia.
Bagaimana serpak terjangnya Hengki Herwanto, salah satu pendiri GMB, bersama kawan-kawannya membangun GMB, berikut petikan wawancara hariansuara.com, beberapa waktu lalu.
Alasan didirikan Galeri Malang Bernyanyi bisa diceritakan?
Keberadaan GMB sebenarnya berawal dari hobi atau kecintaan pada musik sejak masih di SMP. Banyak koleksi kaset tersimpan di lemari yang nyaris sudah jarang diputar lagi. Terlintaslah sebuah pertanyaan bagaimana caranya agar rekaman karya seni musik tersebut dapat bermanfaat bagi orang banyak. Jawaban yang muncul adalah membuat sebuah museum.
Lalu pada tahun 2009 gagasan tersebut dibahas bersama kawan-kawan lama di Malang. Muncul nama Galeri Malang Bernyanyi (GMB) dengan pertimbangan kalau memakai nama museum terkesan formal dan perlu proses perizinan yang memakan waktu panjang. Disepakati bahwa koleksi museum selain berasal dari koleksi pribadi teman-teman nantinya juga dari sumbangan masyarakat. Sedikit demi sedikit kami mulai mengumpulkan kaset, piringan hitam, CD. Kami meminta kepada saudara, teman dekat, teman kantor untuk bersedia menyerahkan koleksinya untuk galeri. Ini hal yang tidak mudah dan perlu kesabaran.
Siapa saja yang ikut mendirikan GMB?
Akhirnya pada tanggal 8 Agustus 2009 kami umumkan pendirian GMB dalam acara “”Malang Fiesta”, sebuah pertunjukan musik yang menampilkan musisi-musisi dari Malang Raya. Walikota Malang Peni Suparto meresmikan pendiriannya. Ada enam nama pendiri GMB, yaitu Pongki Pamungkas, Hengki Herwanto, Mikael Agus Sasono, Luthfi Wibisono, Retno Mastuti dan Rudia Widiastuti.
Selain itu terdapat empat musisi kota Malang yang saat itu mendukung pendirian GMB, yaitu Donny Hardono, Prass Audiensi, Sigit Hadinoto dan Sylvia Saartje. Nama Museum Musik Indonesia baru kami pergunakan pada bulan November 2015 setelah pemegang hak ciptanya memberi izin kepada kami.
Lantas apa saja lingkup kegiatan dari GMB? apakah hanya mendokumentasikan atau mengumpulkan jejak-jejak hasil karya musik musisi indonesia atau seperti apa?
Kegiatan utama memang mendokumentasikan rekam jejak musik di Indonesia. Ini meliputi kegiatan mengumpulkan, meregistrasi, menyimpan, mendisplay, memelihara dan mendayagunakan. Kegiatan lainnya adalah mengadakan diskusi, klinik, workshop, launching album, jumpa pers, kunjungan artis dan melayani tamu yang memerlukan data dan informasi.
Terkait dengan upaya mengumpulkan hasil-hail karya musik, hingga saat ini sudah berapa banyak koleksi yang ada di GMB? apakah hanya dalam bentuk kaset, piringan hitam sajakah?
Jumlah koleksi sekitar 17.000 buah. Porsi terbesar, 75%, adalah kaset, piringan hitam dan CD. Buku, majalah dan barang cetakan 15%. Sisanya yang 10% berupa instrumen musik, busana artis, peralatan audio visual, memorabilia dan sebagainya.
Dan tentu dalam usaha mencari hasil karya musik itu mungkin mengalami kesulitan tersendiri? mengingat waktu terkadang menggerus jejak-jejak tersebut, bagaimana cara untuk mengatasinya?
Mengelola sebuah museum memang sebuah tantangan. Hal ini tidak akan mampu dikerjakan sendirian. Salah satu kunci suksesnya ada di sumber daya manusia. Walaupun sudah memiliki 10 tenaga kerja, masih diperlukan pembenahan SDM untuk meningkatkan produktifitas. Ini prioritas kami di tahun 2016. Selama lebih 6 tahun, mayoritas pendanaan berasal dari kocek para pendiri. Ada juga tambahan donasi dan dana dari sponsor apabila GMB menyelenggarakan event. Tahun 2016 ini, selain pembenahan organisasi, kami akan meningkatkan hunting kesana kemari untuk masalah pendanaan.
Hasil karya musik itu merupakan hasil produksi lama dan rentan terhadap kerusakan, bagaimana cara untuk merawatnya?
Ini juga sebuah tantangan yang kami hadapi. Koleksi kami simpan / display di lemari atau rak. Sebagian tertutup dan sebagian masih terbuka, yang penting dijaga agar jangan lembab atau basah kena air. Piringan hitam yang telanjang kami bikinkan covernya dari karton dan sebagian dilindungi plastik. Sumbangan piringan hitam lama yang kotor kami cuci dulu sebelum diberi cover dan disimpan. Pemeliharaan rutin lainnya masih terbatas pada pembersihan terhadap kotoran dan debu pada covernya.
Saat ini koleksi makin bertambah dan lemari sudah tidak mampu menampung koleksi sehingga sebagian koleksi terpaksa disimpan di dalam dos. Kami sedang melakukan berbagai upaya untuk memperoleh lemari tambahan. Antara lain dengan mengadakan acara Bazaar yang hasilnya akan dipergunakan untuk pembuatan / pembelian lemari.
Dan sejauh ini bagaimana respon masyarakat atau musisi terhadap keberadaan dari GMB ini?
Rasanya responnya cukup. Jumlah penyumbang koleksi sudah sekitar 600 nama, jumlah tamu sekitar 2.000 orang per tahun, baik dari dalam maupun luar negeri. Respon konkrit untuk memberikan donasi yang masih perlu dipikirkan bagaimana cara yang paling efektif.
Adakah rencana kedepan untuk GMB atau Museum Musik Indonesia ini?
Kami berharap dapat menjalin kerjasama dengan pihak manapun yang peduli terhadap pelestarian musik di Indonesia dengan menyediakan tempat, memodernisasi penampilan museum dan menjadikan Museum Musik Indonesia sebagai tempat tujuan wisata.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU