
hariansuara.com, Guatemala City - Guatemala pada hari Selasa (26/7) mengatakan keputusannya untuk mengikuti AS memindahkan kedutaan besarnya di Israel ke Yerusalem adalah masalah "berdaulat" yang seharusnya tidak mempengaruhi hubungan dengan negara lain.
"Ini adalah kebijakan luar negeri Guatemala dan keputusan berdaulat," kata Menteri Luar Negeri Sandra Jovel dikutip AFP.
"Bagaimanapun, kami terbuka untuk bisa berkomunikasi dengan negara-negara lain tapi saya tidak yakin akan menimbulkan masalah dengan negara lain," katanya.
Baca juga: Palestina Sambut Baik Resolusi PBB Yang Menolak Deklarasi Trump Tentang Yerusalem
Presiden Guatemala Jimmy Morales telah memerintahkan kedutaan negaranya untuk pindah dari Tel Aviv ke Yerusalem, kendati PBB pekan lalu mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump yang secara sepihak melihat kota suci tersebut sebagai ibu kota Israel.
Pengumuman tersebut membuat Guatemala menjadi negara pertama yang mengikuti Amerika Serikat dengan mengatakan bahwa pihaknya memindahkan kedutaannya.
Israel mengklaim seluruh Yerusalem sebagai ibukotanya, sementara orang-orang Palestina menganggap Yerusalem timur sebagai ibukota negaranya.
Majelis Umum PBB pada hari Kamis dengan tegas menolak upaya secara sepihak mendefinisikan status Yerusalem. Sebanyak 128 negara memilih untuk mempertahankan konsensus internasional bahwa status Yerusalem hanya dapat diputuskan melalui perundingan damai antara Israel dan Palestina.
Kementerian luar negeri Palestina menyebut keputusan Guatemala "memalukan dan ilegal." Jovel mengatakan sejauh ini tidak menerima telepon "dari duta manapun sehubungan dengan masalah ini."
Baca juga: Turki Membuka Kedutaan di Yerusalem Timur
Dia menambahkan, "Apa yang kita lakukan adalah mengembalikan kedutaan kita dari Tel Aviv ke Yerusalem, tempat kita memilikinya selama bertahun-tahun."
Namun, menteri luar negeri tersebut mengatakan bahwa dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum kedutaan Guatemala berada di Yerusalem. "Saya tidak punya perkiraan waktu untuk langkah ini."
Sebelumnya, mantan presiden Guatemala, Ramiro de Leon Carpio, yang berkuasa 1993 sampai 1996, membuat keputusan memindahkan kedutaan ke Yerusalem, namun mundur ketika negara-negara mayoritas Muslim menutup akses ekonomi terhadap Guatemala.
Namun, Guatemala saat ini jauh lebih bergantung pada Amerika Serikat, yang memberi 750 juta dollar dan negara tetangga El Salvador dan Honduras untuk memberantas kejahatan dan kemiskinan. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU