hariansuara.com, Jakarta - Yayasan Alzheimer’s Indonesia (ALZI) dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya meluncurkan program penelitian multinasional Strengthening Responses to Dementia in Developing Countries (STRiDE) setelah resmi diluncurkan secara global di London, Maret 2018 lalu.
Program STRiDE didanai oleh Research Councils UK’s Global Challenges Research Fund, bertujuan untuk membangun dan memperkuat kapasitas para peneliti di berbagai negara berkembang, dan akan melibatkan tujuh negara, yaitu Afrika Selatan, Brazil, India, Indonesia, Jamaika, Kenya, dan Meksiko. Tim penelitian ini dipimpin oleh Prof Martin Knapp dan Adelina Comas-Herrera dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.
Pakar Neurologi, Dr. dr. Yuda Turana, SpS, memaparkan berbagai tantangan dalam implementasi Rencana Aksi Nasional Demensia. Dekan Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya ini menjelaskan tantangan implementasi di Indonesia adalah masalah koordinasi lintas program dan sektor dalam pengendalian demensia masih tingginya faktor risiko vaskuler, dan kecenderungan peningkatan populasi yang menua seluruhnya berkontribusi terhadap tingginya insidensi demensia.
“Program penelitian STRiDE ini akan menjawab berbagai tantangan tersebut. Program penelitian yang akan berlangsung selama empat tahun hingga tahun 2021 ini akan mendukung implementasi Rencana Aksi Nasional Demensia dan pengembangan berbagai kebijakan nasional untuk menanggapi semakin meningkatnya jumlah lansia dan orang dengan demensia di Indonesia,” papar Pembina Alzheimer’s Indonesia ini.
Langkah kerja sama penelitian STRiDE ini juga merupakan bagian dari perhatian Unika Atma Jaya pada kebijakan publik. Unika Atma Jaya memiliki Institute of Public Policy (IPP) yang mengarusutamakan penelitian kebijakan publik di Indonesia.
Direktur Centre of Ageing Studies Universitas Indonesia (CAS UI) Prof. Dr. Tri Budi W. Rahardjo, drg, M.S, mengatakan bahwa persiapan untuk masa tua yang sukses harus dimulai dari usia produktif, agar bisa mengurangi risiko penyakit yang mengganggu kemampuan fungsional seorang lansia, seperti contohnya demensia.
“Kebutuhan ODD berbeda antar satu orang dengan lainnya, dan beberapa kondisi dapat menyebabkan ODD memiliki kebutuhan yang tak lagi dapat dipenuhi dengan tinggal di rumah seperti biasa, sehingga memerlukan LTC,” tutur Prof. Tri. Beliau juga menambahkan bahwa kesiapan layanan diagnostik dan peningkatan kualitas LTC sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup orang dengan demensia (ODD). LTC yang berkualitas membutuhkan dukungan dari berbagai aspek lingkungan dan komunitas.
Peneliti Indonesia Research on Ageing (InResAge) dari Universitas Trisakti, AP Dr. dr. Nugroho Abikusno, MSc (nutr), DrPH menyampaikan Indonesia saat ini mendapatkan bonus demografi, yang berarti jumlah orang usia produktif di Indonesia sedang dalam puncaknya dan sanggup mendukung populasi lansia yang sudah tidak bekerja. Saat ini, setiap 12 orang lansia didukung oleh 100 orang usia produktif. Menurutnya, ini adalah momen yang tepat untuk mengembangkan berbagai infrastruktur dan sumber daya manusia yang ramah untuk seluruh usia – termasuk untuk lansia dan orang dengan demensia. Pengembangan ini harus fokus di lingkungan dan komunitas sekitar rumah.
“Tantangan utama untuk mewujudkan Indonesia ramah lansia & demensia adalah perlunya respon yang cepat dan tepat dari pemerintah untuk implementasi kebijakan dan program ramah lansia di tingkat nasional dan regional. Perlu penguatan komunitas ramah lansia untuk menjawab permasalahan di tingkat lokal seperti kebutuhan akan infrastruktur dan caregiver untuk ODD dan lansia yang sakit, serta pengembangan social businesses untuk mendukung kebutuhan yang muncul dari meningkatnya jumlah lansia di Indonesia.” ujar Dr. Nugroho.
Direktur Regional Asia Pasifik Alzheimer’s Disease International (ADI), DY Suharya menjelaskan hasil penelitian multinasional STRiDE ini akan memegang peranan penting dalam meningkatkan berbagai kegiatan advokasi, riset, capacity building dan mendorong peran serta pemerintah untuk ikut menurunkan potensi risiko demensia di Asia Pasifik.
“Riset ini bertujuan agar orang dengan demensia (ODD) beserta caregiver-nya dapat hidup berkualitas dan menerima perawatan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk mencapai potensi maksimalnya yang bermartabat, dihormati, mandiri, setara dan bermakna,” katanya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU