
hariansuara.com, Jakarta - Setiap orang tua selalu menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat. Oleh karenanya orang tua wajib merawat dengan baik dan jeli melihat pertumbuhan anak.
DR., dr. Christiana Linda Wahjuni SpOT.,M.Kes.,CCD mengatakan sejak bayi lahir orang tua perlu memperhatikan seluruh bentuk tubuh bayi, mulai dari bentuk kepala, leher, punggung, pinggang dan tungkai atas dan tungkai bawah.
Dijelaskan lebih lanjut, tentang berbagai macam hal terkait pertumbuhan tulang pada anak dan kelainannya.
Kelainan leher dan kepala seperti Torticolis yaitu bentuk kepala yang miring ke kiri atau kanan akibat otot leher yang kaku disisi kiri atau kanan.
Adanya kelainan pada kaki yang bengkok pada bayi baru lahir seperti pada Club foot (CTEV) atau akibat bentuk paksa di dalam rahim yang sempit. Kelainan lain, ibu jari tangan yang bengkok akibat menekuk yang sulit diluruskan, akibat urat atau tendon flexor terjepit.
Bentuk tulang punggung yang awalnya lurus bisa makin lama makin bengkok (Scoliosis) atau bungkuk (Kyphosis) sejalan dengan perkembangan tinggi badan dan bertambahnya usia. Hal ini terjadi tatkala anak remaja mengalami pertambahan tinggi badan yang pesat tatkala memasuki masa puber, biasanya tulang punggung mulai terlihat bengkok.
Tungkai bawah, saat balita pertumbuhan tulang tidak selalu sama, sehingga bisa tampak bentuk kaki yang bengkok di daerah lutut seperti huruf “O” atau “X”. Kelainan lain, saat berjalan, pada kaki jempol kakinya belok ke dalam, atau kelainan berupa telapak kaki datar (Flat foot).
Saat masa puber terdapat pertumbuhan yang pesat pada tulang dan otot remaja (masa growth spurt) sehingga bisa mengakibatkan tulang gampang retak, otot menjadi kaku karena pertumbuhan tulang yang cepat, sehingga gampang cedera. Fase ini terjadi pada usia 10 tahun untuk wanita dan 12 tahun pada laki laki. Timbul benjolan yang nyeri di lutut seperti pada penyakit Osgood-Schlatter, akibat beban ekstra pada lapisan tulang di mana otot yg menempel di tulang tersebut mengalami inflamasi sehingga terasa nyeri.
Bedong Wajibkah?
Bayi ada kalanya yang menolak dibedong, boleh jadi merasa risih dan terkekang. Lantaran tak tega melihat buah hatinya meronta dan menangis, maka orang tua pun melepas kain bedong yang melilit kaki sang bayi. Praktis, lewat usia 1 bulan, bayi pun bebas bedong. Apakah tidak membedong bayi akan berakibat buruk pada bentuk kaki sang bayi kelak?
Menanggapi banyaknya pertanyaan orang tua yang masuk ke meja Redaksi mengenai hal ini, dr. Christiana mengatakan, bayi tidak dibedong tidak masalah selama bayinya merasa nyaman.

"Tidak ada hubungan langsung dengan masalah pertumbuhan dan perkembangan tulang. Dibedong itu untuk membuat tubuh bayi hangat. Bila udara panas, gerah tentu bayi akan menolak dibedong dan rewel," tambah perempuan doktor ahli bedah ortopedi pertama di Indonesia, yang keseharian berpraktik di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta kepada hariansuara.com, Selasa, (22/1/2019).
Lebih lanjut, agar anak tumbuh dengan tulang yang sehat, kuat dan proporsional, dr. Christiana Linda Wahjuni menyarankan agar anak-anak aktif bermain, berolahraga, dan beroleh asupan yang bergizi.
"Untuk meminimalkan cedera pada remaja disarankan untuk memakai pelindung saat berolahraga, bila perlu ikut program olahraga khusus sesuai kebutuhan," pungkasnya. (*)
(Foto: Dok DR., dr. Christiana Linda Wahjuni SpOT., M.Kes., CCD)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU