.jpeg)
hariansuara.com, Jakarta - Koalisi Perlindungan Masyarakat (KOPMAS) meluncurkan video edukasi untuk masyarakat melalui channel Koalisi Peduli. Video tersebut memuat karakteristik dan perbedaan cara penggunaan produk olahan susu yang ada disekitar kita, termasuk salah kaprah tentang susu kental manis.
Ketua KOPMAS Arif Hidayat mengatakan meski Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah menegaskan sejumlah larangan terkait susu kental manis melalui PerBPOM No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, namun edukasi untuk masyarakat tidak boleh putus.
Di antara larangan BPOM adalah pada Pasal 54 yang menyebutkan bahwa kental manis bukan untuk menggantikan air susu ibu, tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan dan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi.
Pasal 67 butir W juga memuat larangan pernyataan/visualisasi yang menggambarkan bahwa susu kental dan analognya disajikan sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu dan sebagai satu-satunya sumber gizi, dan butir X memuat larangan pernyataan/visualisasi yang semata-mata menampilkan anak di bawah usia 5 (lima) tahun pada susu kental dan analognya.
KOPMAS mengapresiasi pemerintah dalam hal ini BPOM yang telah dengan tegas mengeluarkan aturan tentang penggunaan kental manis melalui PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Meski demikian, di tataran masyarakat tetap diperlukan edukasi yang mudah dipahami dan efektif, salah satunya adalah dalam bentuk video edukasi, jelas Arif.
Yuli Supriyati, pegiat kesehatan masyarakat yang juga tergabung dalam KOPMAS berharap kedepannya, pemerintah, produsen dan masyarakat dapat menjalin sinergi yang baik dalam rangka edukasi kebutuhan gizi keluarga untuk mencapai target Generasi Emas 2045.
“Salah satu yang menjadi fokus perhatian KOPMAS saat ini adalah persoalan susu kental manis. Mengingat bahwa dalam jangka waktu yang lama masyarakat telah beranggapan bahwa susu kental manis adalah minuman bergizi untuk anak sehingga tidak mudah untuk memperbaiki mindset masyarakat tersebut. Kami masih menemukan orang tua yang memberikan susu kental manis sebagai asupan gizi anak di beberapa wilayah di Jawa Barat dan Banten.
Pemerintah memang telah mengeluarkan regulasi, namun edukasi langsung ke masyarakat tetap perlu dilakukan, jelas Yuli Supriyati.
Ketua Himpunan PAUD Indonesia Netty Herawaty dalam sebuah kesempatan menceritakan, ada kecenderungan orang tua memberikan anak minuman yang menyerupai susu, apabila mereka tidak sanggup membeli susu. Hal itu disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi dan nutrisi anak.
“Karena pengetahuan mereka rendah, mereka tidak paham tentang susu dan ditambah lagi ekonomi mereka juga rendah. Nah, susu itu identik dengan putih.
Maka pada saat ekonominya lagi nggak ada sementara anak butuh susu, maka dicari solusi yang menurut anak itu putih,” tutur Netty.
Salah satu yang ditemukan Netty saat melakukan pengumpulan data di Riau adalah orang tua yang mencampur tepung terigu dengan air dan gula. Campuran terigu tersebut diberikan orang tua kepada anak sebagai pengganti susu, karena warnanya yang putih dan identik dengan susu.
“Saya kaget waktu menemukan itu, sampai segitunya gitu lho pemahaman tentang susu. Sampai nggak punya susu, harus cari yang seolah olah susu buat anak. Bisa jadi, bahwa susu kental manis akan dianggap solusi bagi orang-orang seperti ini. Bahkan kental manis lebih enak juga, sudah dalam bentuk sachet danr asanya manis,” ungkap Netty prihatin.
Persoalan pengetahuan masyarakat akan gizi anak inilah yang menurut Netty harus cepat dituntaskan. Pengetahuan orang tua rendah, ekonomi keluarga juga rendah. Namun mereka menydari satu hal, bahwa anak mereka butuh susu. Hal inilah yang akan menjadi penyebab pemberitaan tentang anak kurang gizi dan stunting masih akan mewarnai isu kesehatan di Indonesia.
Lebih lanjut, Netty meminta agar masyarakat dapat melindungi dirinya sendiri dengan cara mengedukasi para pengambil keputusan.(*)
“Bila pengambil keputusan dalam keluarga sudah teredukasi, maka apapun yang ditawarkan (iklan) kepadanya dia tidak akan pakai,” jelas Netty.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU