
hariansuara.com, Jakarta - Pada bulan Januari 2019, Secukinumab telah mendapatkan persetujuan Badan POM untuk mengobati Ankylosing Spondylitis (AS) dan Psoriatic Arthritis (PsA). Sebelumnya, Secukinumab dinilai efektif mampu membantu pasien Psoriasis untuk mendapatkan kembali kulit yang bersih hingga 90%.
Baik pasien AS maupun PsA terkait secara genetik dan klinis, karena keduanya adalah penyakit Reumatik Inflamasi (Inflammatory Rheumatic) yang terkait dengan gen HLA-B27, yaitu gen kuat yang meningkatkan risiko beberapa penyakit reumatik.
Sekitar 85-95% pasien penderita AS dan PsA menunjukkan positif pada gen HLA-B27. Menurut spesialis penyakit dalam dan konsultan reumatologi, DR. dr. Rudy Hidayat, SpPD-KR, “Gen ini tidak menyebabkan penyakit, tetapi bisa membuat orang lebih rentan terkena dan menderita AS dan PsA.” Ia menambahkan “Kebanyakan pasien penderita AS dan PsA tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Mereka baru mengetahuinya setelah merasakan peradangan dan rasa sakit yang terus-menerus dan tidak tertahankan lagi hingga menyebabkan gangguan fungsi gerak tubuh. Deteksi dini dan pananganan yang tepat sangat berperan penting dalam memperbaiki gejala (terutama rasa nyeri), fungsi anggota gerak dan kualitas hidup pasien.”
Pasien dengan AS biasanya mengalami gejala seperti peradangan, rasa sakit, dan kekakuan di bagian tulang belakang serta sendi lain, seperti bahu, pinggul, tulang rusuk, atau tumit terutama terjadi di pagi hari. Sementara itu, pasien dengan PsA, umumnya menunjukkan gejala yang mirip tetapi biasanya disertai dengan psoriasis pada kulit, walaupun bisa juga terjadi tanpa artritis.
Pria memiliki peluang 3 kali lebih tinggi untuk menderita AS dibandingkan wanita. Penyakit ini bisa terjadi di segala usia, tapi umumnya mulai berkembang pada masa remaja atau dewasa awal (sekitar usia 20 tahunan). Hanya 5% mengalami gejala setelah umur 45 tahun.
Beberapa alternatif penatalaksanaan yang tersedia saat ini, baik untuk AS maupun PsA, lebih banyak bertujuan untuk memperbaiki kelainan pada postur tubuh, mencegah kecacatan, meningkatkan kemampuan pasien untuk kembali beraktivitas secara normal, dan mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan.
“Saat ini, jenis pengobatan yang banyak digunakan untuk menangani, baik penyakit AS maupun PsA diantaranya adalah obat-obatan non-steroid anti-inflamasi (NSAID), obat anti-reumatik (DMARDs) dan yang terbaru adalah agen biologik. Tersedianya Secukinumab sebagai salah satu pilihan terapi agen biologik, diharapkan dapat membantu menjawab kebutuhan pengobatan pasien AS dan PsA di Indonesia agar bisa mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik,” papar DR. dr. Rudy.
Selain menggunakan obat untuk mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan, pasien penderita AS dan PsA juga dapat melakukan terapi fisik. “Terapi ini berperan penting dalam perawatan, karena dapat membantu menghilangkan rasa sakit hingga peningkatan kekuatan dan fleksibilitas. Pasien AS dan PsA dapat melakukan latihan rentang gerak dan peregangan untuk membantu menjaga kelenturan sendi, serta mempertahankan postur tubuh yang baik. Posisi tidur dan berjalan yang tepat serta olah raga perut dan punggung dapat membantu menjaga postur tubuh tegak,” ucap DR. dr. Rudy.
Jorge Wagner, President Director Novartis Indonesia, memaparkan komitmen Novartis Indonesia dalam meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat seputar isu kesehatan. “Pasien adalah prioritas kami yang utama. Sebagai perusahaan kesehatan inovatif, Novartis berupaya untuk terus-menerus menemukan cara baru untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien kami melalui penyediaan obat-obatan yang berkualitas, program-program edukasi kesehatan, serta menjalin kemitraan dengan pihak-pihak terkait,” katanya.
Novartis telah berkontribusi selama puluhan tahun di Indonesia. Melalui program Continuous Medical Education (CME), Novartis Indonesia telah berhasil melatih lebih dari 10.000 dokter dari berbagai area spesialis, dalam 3 tahun terakhir. Jorge menambahkan, “Guna memastikan para pasien mendapatkan akses yang lebih baik terhadap obat-obatan kami, kami telah mendaftarkan 24 SKU produk kami dalam terapetik area yang berbeda ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, dalam dua tahun terakhir ini, kami juga telah berhasil meluncurkan beberapa pengobatan alternatif untuk lima bidang terapi yang berbeda antara lain adalah psoriasis, gagal jantung penyakit retina, tumor neuro-endokrin, dan leukemia granulositik kronis,” pungkasnya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU