
hariansuara.com, Jakarta - Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) bersama dengan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah melakukan survei tentang Kebiasaan Konsumsi Susu Kental Manis dan Dampaknya terhadap Gizi Buruk Anak. Penelitian akan dilaksanakan pada wilayah dengan prevalensi stunting (kerdil--Red) tinggi di Indonesia, yaitu Aceh (30,8%), Kalimantan Tengah (34%) dan Sulawesi Utara (25,5%).
Sebelumnya, pada 2018, YAICI bekerjasama dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN) Makassar dan Stikes Ibnu Sina Batam melakukan survei tentang Persepsi Masyarakat tentang Susu Kental Manis. Survei dilakukan terhadap 400 ibu di Kelurahan Mandonga, Kec. Mandonga, Kota Kendari dan 300 ibu di Kelurahan Sagulung Kota, Kec. Sagulung, Kota Batam yang memiliki anak usia 7 tahun. Hasilnya menunjukkan, sebanyak 97% ibu di Kendari dan 78% ibu di Batam memiliki persepsi, bahwa susu kental manis adalah susu yang bisa dikonsumsi layaknya minuman susu untuk anak. Sejatinya, SKM memiliki kandungan gula tinggi, yaitu 20 gram per sekali saji/1 gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih rendah dari susu lainnya.
Menindaklanjuti temuan tersebut, maka diperlukan pemetaan persepsi masyarakat, tingkat konsumsi SKM dan kejadian stunting yang menyeluruh. Oleh karena itulah kerjasama YAICI dan Majelis Kesehatan PP. Aisyiyah sejak awal 2019 fokus pada edukasi gizi untuk masyarakat, yang diperkuat dengan melakukan penelitian di wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.
Ketua Harian YAICI Arif Hidayat menegaskan adanya regulasi dari pemerintah tentang SKM tidak serta merta menghilangkan kebiasaan masyarakat mengonsumsi SKM. “Berbagai alasan orang tua terutama di wilayah pedesaan memberikan SKM untuk anak adalah fakta yang ditemukan di masyarakat, khususnya di pedesaan. Alasannya karena sudah terbiasa serta pengaruh iklan di televisi,” ujar Arif Hidayat.
Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dra Chairunnisa M.Kes mengatakan penelitian ini untuk mengetahui tingkat gizi buruk dan stunting serta dampak pemberian SKM/KKM dan faktor lainnya terhadap kejadian stunting pada balita. Penelitian di 3 provinsi ini terkait dengan kegiatan Gerakan Aisyiyah Sehat (GRASS) yang di dalamnya ada pencegahan stunting, Penyakit Tak Menular (PTM), Kesehatan Ibu dan Anak dan Peningkatan Cakupan Imunisasi yang bekerjasama dengan Promkes dengan Mobilisasi Sosial menggerakan masyarakat di 9 Kabupaten.
Penelitian ini juga melibatkan kader GRASS sebagai penggali data dan informasi di lapangan. “Penelitian ini diperlukan untuk memberikan rekomendasi sebagai dasar pengambilan kebijakan kesehatan masyarakat yang bersifat promotive dan preventif menurunkan prevalensi stunting,” jelas Chairunnisa.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan mix method yang menggabungkan kuantitatif dan kualitatif, yaitu dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survei cepat dengan variabel dependen penelitian adalah kejadian stunting pada balita, di mana variabel independent utamanya adalah konsumsi SKM/KKM. Sementara pendekatan kualitatif dilakukan menggunakan metode pengumpulan data wawancara mendalam (terhadap stakeholders, yaitu dinas kesehatan, IDAI, Kepala Puskesmas, Tokoh masyarakat) dan observasi langsung di masyarakat.
Pengisian survei oleh responden di tiga fokus penelitian, yaitu Banda Aceh, Takengon (Aceh Tengah) serta Sigli di Kabupaten Pidie. Berdasarkan survei dan pendataan tersebut, ditemukan sejumlah keluarga yang anak-anaknya mengonsumsi krimmer kental manis (KKM). Keluarga Ibu Juniar di Pidie misalnya, ketiga anaknya yang berusia 2,5 tahun, 1,5 tahun dan 6 bulan mengonsumsi KKM. Menurut penuturan perantau asal Medan ini, awal mula anak-anaknya mengonsumsi KKM datang dari anaknya yang paling besar. Rata-rata, dalam satu hari masing-masing anak menghabiskan 3 gelas KKM.
Di Desa Blangkumot Tunong, Kab Pidie, dari 37 anak usia 0 – 23 bulan yang rutin datang ke Posyandu, 16 diantaranya mengalami gizi buruk. Berdasarkan penjelasan Putri Sari, kader Posyandu Blangkumot Tunong, ke-16 anak ini telah dibantu dengan PMT yang diperoleh dari Puskesmas setempat. “Kami melihat dari KMS, berdasarkan umur, berat badannya sudah mendekati garis putih, yang artinya sangat kurang dan harus dibantu dengan PMT,” jelas Putri.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU