Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Kesehatan

Atasi POP untuk Hidup Berkualitas dan Perkawinan Bahagia

Kesehatan
13 Jun 2020
Atasi POP untuk Hidup Berkualitas dan Perkawinan Bahagia

ariansuara.com, Jakarta – Juni adalah bulan kampanye awareness tentang POP (Pelvic Organ Prolapse). Tahukah Anda istilah tersebut? 

POP atau Prolaps Organ Panggul adalah suatu gangguan kesehatan berupa turunnya organ dasar panggul. “Hampir 50% wanita yang pernah melahirkan mengalami POP pada suatu saat dalam kehidupan mereka,” ujar dr Ni Komang Yeni Dhana Sari, SpOG atau kerap disapa Dokter Yeni DS. “Sedihnya, meski banyak yang mengalami organ dasar panggulnya turun, tapi mereka tidak menyadarinya.” 

Yang mereka keluhkan, ada yang tidak beres ‘di bawah sana’. Misalnya, ta kuasa menahan buang air kecil, sehingga akhirnya mengompol (inkontinensia urine). Keluhan lain, berulang kali mengalami infeksi saluran kemih. Ada yang merasakan sensasi berat atau tekanan berat pada dasar panggul. Ada pula yang mengeluh, ketika sedang membasuh kemaluan, terasa benjolan yang keluar dari vagina. Tak sedikit yang merasa sakit atau kurang sensasi saat berhubungan intim dengan suami. Keluhan yang lumayan banyak adalah mengalami kesulitan buang air besar.

Begitulah keluhan yang acap ditemui oleh Ibu dua anak ini di ruang praktik. Mencermati keluhan-keluhan tersebut sejatinya merupakan gejala dari POP. Tapi, lantaran tidak menyadari, akhirnya mereka percaya komentar teman kalau dia turun berok. 

“Istilah turun berok untuk kasus POP kuranglah tepat. Turun berok itu konotasinya hanya turun peranakan/rahim/uterus,” jelas ginekolog di Health360 Indonesia, Tangerang dan juga Bamed Women's Clinic, Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan ini. “Sementara POP terjadi ketika otot, fasia, dan ligamen yang menyangga organ panggul (kandung kemih, rahim, dan usus) melemah dan meregang, yang memungkinkan organ panggul turun.” 

Apakah POP hanya mengenai ibu yang melahirkan secara normal saja? Tidak, kata dr Yeni. Wanita yang pernah melahirkan bisa mengalami jaringan dan otot panggulnya turun (lemah). Yang pasti, dalam satu keadaan, wanita mengalami satu gejala saja, seperti kandung kemihnya yang turun, rahim, atau ususnya saja. Tapi ada kalanya yang sampai mengalami gabungan dari ketiganya sekaligus. 

Bisakah POP diatasi dengan berolahraga? “Ya, bisa saja. Latihan seperti apa yang harus atau tidak boleh dilakukan, tergantung pada banyak faktor. Misalnya derajat prolaps yang dialami dan seberapa lama pasca melahirkan hal itu terjadi, dan beberapa faktor sebab lainnya."

Untuk mencegah POP, penting bagi ibu hamil untuk mengikuti senam hamil maupun senam pasca melahirkan. Ini tujuannya untuk membantu menguatkan dan mengencangkan otot-otot dasar panggul, otot perut dan punggung, serta menjaga postur tubuh dan menghindari berat badan berlebih. Pada kasus POP yang berat, pasien perlu dioperasi untuk memperbaiki anatomi dan fungsinya.

Sekali lagi dr Yeny mengingatkan, penting bagi Anda untuk peka terhadap gejala yang terjadi pada tubuh. Bila Anda merasakan salah satu gejala POP tersebut, segera ke dokter untuk pemeriksaan. “Prolaps Organ Panggul jarang mengancam jiwa, tetapi gangguan fisik ini seringkali mengganggu kualitas hidup. Jadi, berapa pun usia Anda, jangan anggap remeh panggul Anda!” (*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X