
hariansuara.com, Jakarta - Tempe adalah makanan olahan biji kedelai yang paling digemari masyarakat Indonesia. Harganya yang relatif murah, rasanya nikmat, mudah diolah menjadi berbagai menu makanan, ternyata bernilai gizi tinggi.
Kabar baik untuk kita semua di saat masih terus menghadapi pandemi COVID-19, dari hasil studi menyatakan, tempe sangat efektif untuk menguatkan imunitas atau kekebalan tubuh.
Tempe mengandung protein lebih tinggi daripada daging. Sementara selama ini daging dianggap sebagai sumber protein primadona yang dapat melipatgandakan daya tahan tubuh. Selain berprotein lebih tinggi, tempe juga memiliki kandungan berbagai jenis bakteri baik atau probiotik dan antioksidan isoflavone yang terbukti bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Berarti, di masa pandemi COVID-19 ini, kita bisa menjaga kekebalan tubuh keluarga kita tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli daging yang relatif lebih mahal. Kita bisa suguhkan tempe untuk keluarga kita tercinta, agar tubuh tidak mudah terinfekasi COVID-19 yang berbahaya itu.
Tempe Makanan Tradisional Asli Indonesia
Tempe merupakan produk dari tanaman kedelai yang terbentuk atas jasa kapang jenis Rhizopus Sp, terutama spesies R. oligosporus melalui proses fermentasi. Dalam buku karya Steinkraus 1996 yang berjudul Indigenous Fermented Foods menjelaskan, proses fermentasi kedelai menjadi tempe, baik perubahan fisik, biokimia, maupun mikrobiologi semuanya sangat menguntungkan bagi asupan gizi dan kesehatan.
Namun sangat disayangkan, banyak masyarakat Indonesia tidak mengetahui keunggulan tempe yang memiliki harga kaki lima, tetapi kadar gizi dan rasanya setara makanan bintang lima ini.
Disisi lain, berbicara kasus COVID-19 di Indonesia hingga Oktober 2020, jumlah kasus posotif COVID-19 masih cukup tinggi. Data dari kemenkes.go.id pada Rabu, 28 Oktober 2020, terdapat tambahan 4.029 kasus baru sehingga total kasus mencapai 400.483.
Angka tersebut tidak bisa dianggap enteng, selain menunggu kehadiran vaksin, masyarakat Indonesia membutuhkan kesadaran untuk mencegah dan mempercepat proses penyembuhan pasien positif yang terpapar virus dengan meningkatkan sistem kekebalan atau imunitas tubuh. Langkah antisipasi untuk mencegah tertular virus COVID-19 adalah dengan menerapkan gerakan 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak dengan menghindari kerumunan.
Pada dasarnya setiap tubuh manusia memiliki sistem imun untuk melawan virus dan bakteri penyebab berbagai penyakit, salah satunya Corona virus atau COVID-19. Mengonsumsi makanan yang kaya antioksidan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, daging, susu dan makanan sumber gizi lainnya juga cukup efektif meningkatkan imunitas tubuh.
Kini kita tahu hasil riset, betapa tempe dengan berbagai kelebihannya merupakan salah satu makanan alternatif penyumbang antioksidan dan gizi yang tinggi. Selain harga tempe yang bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, tempe juga punya zat antioksodan dalam bentuk isofalvon yang dapat menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas, sehingga menghambat proses penuaan dini, juga mencegah berbagai macam penyakit seperti diare, diabetes melitus, kanker, jantung koroner maupun osteoporosis.
Kandungan Gizi Tempe Lebih Lengkap daripada Daging
Kebanggaan dengan produk makanan Indonesia seperti tempe tentunya bukan tanpa alasan. Selain rasanya yang nikmat, ternyata kandungan gizi tempe sangat lengkap.
Menurut Jurnal Widya Kesehatan karya I Wayan Redi 2019, para ilmuan di berbagai negara terutama Jepang, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat telah melakukan penelitian mengenai produk tempe dari segi gizi, proses pembuatan, maupun aspek medis. Hasil penelitian menunjukkan semua zat terkandung dalam tempe (kecuali lemak) lebih tinggi dibandingkan dengan daging.
Kemudian untuk perbandingan gizi antara tempe dan daging, pada nilai protein per 100 gram penyajian, ternyata tempe mengandung 20,7 gram protein dan daging mengandung 18,8 gram. Pada kandungan kalsium, tempe unggul dengan nilai 155,1 mg, sedangkan daging hanya 10,0 mg.
Kemudian kandungan lainnya,tempe memiliki fosfor 323,6 mg, riboflavin 0,29 mg, serat 3,2 g, karbohidrat 13,5 g dan vitamin B12 1,7 ug serta beberapa kandungan gizi lainnya.
Sedangkan setiap 100 gram penyajian daging, kandungan fosfor hanya 170 mg, tidak memiliki kandungan riboflavin, karbohidrat dan serat, serta 1,4 ug kandungan vitamin B12. Untuk kandungan lemak, daging lebih tinggi yaitu 14,0 g dan tempe 8,8 g tiap per 100 gram penyajian.
Terbukti bukan, meskipun daging lebih mahal, namun kadungan gizi kompleks tempe masih lebih unggul. Tempe juga memiliki nilai kalsium setara dengan susu sapi.
Kemudian mengonsumsi makanan kaya probiotik yang difermentasi seperti tempe memiliki manfaat menciptakan pelindung usus dari protagen seperti E.coli dan Salmonella. Tempe juga kaya probiotik yang dapat memecah gula sehingga tidak sulit untuk dicerna dan membantu pencernaan melawan peradangan kronis serta meningkatkan sistem antibodi, imunitas atau sistem kekebalan tubuh yang kuat.
Jadi, di tengah pandemi di mana sektor perekonomian umumnya melesu, di mana masyarakat Indonesia tak semampu dulu membeli daging setiap hari, dapat mengganti asupan gizinya dengan tempe sumber makanan kaya gizi dan manfaat untuk perkuat kekebalan tubuh.
Fakta Ironis, Kedelai Bahan Baku Tempe Mayoritas Impor
Dibalik kabar menggembirakan tentang kehebatan tempe, makanan tradisional olahan dari kedelai yang menjadi primadona di dapur Indonesia, fakta ironis menunjukkan hal yang sangat miris.
Kedelai sebagai bahan baku pokok pembuatan tempe ternyata bukan dari produk petani Indonesia, melainkan mayoritas dari petani negeri seberang alias impor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai sepanjang semester 1 tahun 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta dollar AS atau setara dengan Rp 7,52 triliun (kurs Rp 14.700). Sebanyak 1,14 juta ton berasal dari Amerika Serikat (AS).
Data gabungan yang dihimpun Asosiasi Koperasi Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo), selain AS, kedelai juga dipasok dari para pengusaha tempe dan tahu negara Kanada, Brazil dan Uruguai.
Dikutip dari harian Kompas.com 2020, selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir yaitu 2010-2020, volume kedelai impor mencapai 2-7 kali lipat dari produksi kedelai lokal, porsi yang besar berasal dari AS.
Sungguh ini merupakan fakta ironis yang harus diterima oleh para petani kedelai di Indonesia, padahal Indonesia adalah negara agraris dimana sektor pertanian sepatutnya menjadi andalan.
Pada 2020 yang menjadi tahun cukup keras dan memukul banyak sektor ekonomi di Indonesia akibat munculnya pandemi COVID-19 sudah seharusnya masyarakat Indonesia diajak untuk mencintai produk dalam negeri. Salah satunya dengan memanfaatkan produk lokal seperti kedelai lokal untuk memproduksi tempe dan tahu di Indonesia.
Namun untuk itu dibutuhkan dukungan pemerintah seperti menyediakan lahan pertanian khusus untuk produksi kedelai sehingga akan meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Pun, ini wujud upaya Indonesia mengurangi produk impor. Terlebih di masa lalu, pada 1992, Indonesia pernah mengalami swasembada kedelai, hingga produksi kedelai bisa mencapai 1,8 juta ton.
Kita harus optimis, suatu saat Indonesia juga bisa melakukan swasembada kedelai lagi. Para petani kedelai Indonesia bisa hidup makmur. (*) mel/mel Foto: femininbio.com, freepick.com & IST
____________________________________________
Penulis: Nikmatus Sholikah (Nicmah), penggiat literasi dan jurnalis lepas, Presiden Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) Indonesia, Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Negeri Brawijaya Malang, dan jurnalis tvOne 2014-2019. Email: nicmah21@gmail.com
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU