Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Kesehatan

Kemenkes Segera Adakan Obat Sofosbuvir Bagi 6.000 Orang Pengidap Hepatitis C

Kesehatan
19 Nov 2016
Kemenkes Segera Adakan Obat Sofosbuvir Bagi 6.000 Orang Pengidap Hepatitis C

 

Jakarta -  Koalisi Obat Murah (KOM) sambut positif gerak cepat Kementerian Kesehatan dalam melakukan tender pengadaan obat Hepatitis C Sofosbuvir guna sediakan pengobatan bagi kurang lebih 6.000 pasien yang selama ini terinfeksi virus yang mematikan ini.

 

“Tender pengadaan obat Sofosbuvir ini tunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan benar-benar serius dalam upaya menyelamatkan nyawa rakyat Indonesia dari ancaman epidemi Hepatitis C. Epidemi ini telah menjadi sebuah Silent killer bagi puluhan ribu nyawa di Indonesia serta jutaan lainnya di seluruh dunia.” ucap Aditya Wardhana, Direktur LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC) yang juga menjadi juru bicara Koalisi Obat Murah (KOM).

 

Obat yang akan didatangkan oleh Kementerian Kesehatan kali ini adalah sebuah obat yang bernama Sofosbuvir dan digunakan bersama kombinasi dengan Ribavirin serta diketahui memiliki tingkat efektifitas menyembuhkan penyakit Hepatitis C lebih dari 95%. Obat Sofosbuvir ini pada tanggal 1 Juli 2016 yang lalu telah mendapatkan ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia.

 

KOM meminta proses tender pengadaan obat ini bisa berjalan dengan transparan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia.

 

“Kami berharap bahwa obat yang akan dibeli oleh Pemerintah adalah Sofosbuvir generik karena obat generik ini harganya hanya 0,5% dari harga obat versi patennya. Dengan membeli obat versi generik, Pemerintah akan mampu membeli obat lebih banyak guna mengobati lebih banyak pasien dibanding membeli obat versi paten” pungkas Aditya.

 

Obat Sofosbuvir versi paten diketahui dijual di pasaran dengan harga 13 juta rupiah untuk setiap butirnya sementara Sofosbuvir generik bisa didapatkan di India dengan harga hanya 52 ribu rupiah setiap butirnya serta sudah termasuk dengan pasangannya yaitu Ribavirin. Perbedaan harga yang signifikan ini turut menjadi perhatian pula dari Koalisi Obat Murah serta banyak aktivis kesehatan di seluruh dunia yang merasa bahwa perusahaan pemilik paten obat Sofosbuvir telah bertindak sewenang-wenang dengan menetapkan harga tanpa memperdulikan keberlangsungan nyawa jutaan pengidap Hepatitis C di seluruh dunia.

 

Koalisi Obat Murah sendiri juga telah melayangkan surat resmi kepada Menteri Kesehatan untuk sesegera mungkin memasukkan obat Sofosbuvir ini dalam Formularium Nasional (Fornas) tambahan 2016 sehingga obat ini kedepannya bisa ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) demi membuka akses pengobatan yang lebih luas bagi seluruh pengidap Hepatitis C ini di Indonesia.

 

“Kabar terakhir yang kami dapatkan, surat usulan agar obat Sofosbuvir ini bisa dimasukkan ke dalam Fornas tambahan 2016 sehingga bisa ditanggung oleh JKN sedang menunggu tanda tangan final dari Menteri Kesehatan. Kami sangat berharap bahwa surat usulan ini tidak terganjal oleh birokrasi di internal Kementerian Kesehatan sehingga kehadiran obat ini bisa secepatnya memberikan manfaat bagi jutaan pengidap Hepatitis C lainnya yang membutuhkan karena kemudian biayanya ditanggung oleh JKN” kata Sindi Putri, Staff Advokasi dari LSM Indonesia AIDS Coalition.

 

IAC serta Koalisi Obat Murah juga berharap agar kementerian kesehatan segera merevisi panduan pengobatan bagi penyakit Hepatitis C ini dengan memasukan opsi pengobatan menggunakan obat Sofosbuvir sehingga bisa sesegera mungkin menjadi acuan bagi dokter-dokter di seluruh Indonesia.

 

Persoalan tingginya harga diagnosa pra-pengobatan yang diperlukan oleh pasien sebelum memulai pengobatan Hepatitis C juga merupakan sebuah tantangan yang harus segera dipecahkan oleh Kementerian Kesehatan. Diagnosa pra-pengobatan ini mencakup tes jumlah virus dan tipe virus Hepatitis C yang menyerang tubuh pasien (HCV Genotype dan HCV RNA) serta tes guna mendeteksi tingkat kerusakan hati akibat infeksi virus Hepatitis C ini (Fibroscan).

 

“Harapan untuk sembuh dari Hepatitis C itu ada. Sekaranglah saatnya pemerintah harus benar-benar tunjukkan komitmennya dalam upaya melakukan kontrol serta eliminasi epidemi Hepatitis C dari Indonesia dengan menyediakan akses universal bagi setiap rakyat kepada program pencegahan, diagnosa serta pengobatan bagi setiap pengidap penyakit Hepatitis C.” tutup Aditya.

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X