
hariansuara.com, Jakarta – Artis Julia Perez sudah lebih dari 2 bulan dirawat di rumah sakit karena divonis menderita penyakit kanker serviks stadium akhir oleh dokter. Belum ada tanda-tanda bahwa penyakitnya akan sembuh dalam waktu dekat ini.
Mengikuti di televisi mengenai kesehatan artis Julia Perez, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof DR. Aru Wisaksono Sudoyo menilai, untuk penyakit kanker serviks yang sudah stadium empat (akhir) dan telah menyebar ke anggota tubuhnya yang lain, agak sulit untuk disembuhkan.
“Susah sembuh dan kanker serviks yang diderita Julia sudah stadium empat dan sudah menyebar ke anggota tubuhnya,” ujar Prof Aru kepada hariansuara.com di Jakarta, Senin (15/5).
Prof Aru menjelaskan, penyebab terbesar masyarakat terkena penyakit kanker serviks karena infeksi Virus Human Papilloma (HPV). Virus HPV itu menjadikan kanker serviks sebagai salah satu kanker yang bisa dicegah dengan vaksinasi.
“Sekarang yang kami lakukan adalah mendeteksi kanker yang sudah ada sedini mungkin, tapi kanker serviks juga bisa dicegah dengan vaksinasi HPV,” ujar dia.
Faktor penyebab terkena kanker serviks menurut Aru, kebanyakan dari lingkungan, air, kebersihan. Namun berbeda di negara berkembang, di negara yang ekonominya maju, infeksi HPV umumnya menular lewat hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan (multiple partner).
“Jika di kita penularannya bukan faktor hubungan seksual, melainkan lebih mengarah pada lingkungan, kebersihan, air yang terkena virus. Dari makanan juga tidak. Tapi khusus kanker serviks, jelas kita tahu penyebabnya dari virus HPV,” ungkap Aru.
Aru menjelaskan, bila merujuk di Amerika, vaksinasi sudah diberikan saat masuk SMP, karena mereka sudah dikenalkan dengan pendidikan seks, hal berbeda dengan di Indonesia.
“Tapi bukan tidak ada obatnya, bisa disembuhkan dengan dioperasi. Makanya kalau ketahuan sedini mungkin bisa sembuh dengan operasi. Dengan pemberian vaksin sedini mungkin untuk mencegah, membuat orang itu menjadi tidak mudah atau tidak akan kena,” ucapnya.
Terapi variatif sebaiknya untuk pasien di stadium empat, menurut Aru, tergantung keluhannya. Kalau ada nyeri dikurangi rasa nyerinya, pasien pusing-pusing tinggal mengobati pusingnya. Tentunya harus ada rasa ‘care’ pada perawatannya.
“Terapi Variatif ‘care’ itu terutama dari sikap seseorang, ini program DKI ke depan. Pasien-pasien saya pada takut pulang ke rumah. Itulah yang kami coba awasi, dengan memberi pelatihan-pelatihan untuk keluarga pasien bagaimana merawat di rumah. Nanti di rumah bagaimana? Tantangan inilah yang harus dijawab melalui pelatihan perawatan variatif,” tutur Aru.
Dengan semakin majunya pengobatan kanker, diharapkan jumlah orang yang meninggal semakin sedikit. Meskipun begitu, ungkap Aru, terhadap masyarakat yang telah terkena kanker serviks, penanganannya tidak hanya perawatan kankernya itu sendiri, tetapi ada penanganan lain, yaitu dengan mengawal hidup yang berkualitas dari pasien.(Albi Wahyudi)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU