Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Kesehatan

Psikolog: Rumah adalah Faktor Nomor Satu Pembentuk Sifat Bullying Anak

Kesehatan
02 Aug 2017
Psikolog: Rumah adalah Faktor Nomor Satu Pembentuk Sifat Bullying Anak

 

hariansuara.com, Jakarta – Psikolog Tika Bisono mengakui, faktor yang mempengaruhi perlakuan bullying (penggunaan kekerasan) ada di setiap karakter manusia. Lingkungan yang pertama dan paling dekat untuk anak adalah di dalam rumah tangga.

 

Menurut Tika, kebiasaan orang tua di rumah yang suka memaki, membandingkan dan melakukan kekerasan fisik, dapat memicu anak melampiaskannya di lingkungan luar rumah.

 

“Jadi ‘treat’ atau sifat dasar keras itu sudah pasti ada, dari rumah sudah sering dengar kata-kata makian, seperti bodoh, tolol dan lainnya. Hal itu membentuk seseorang memiliki sifat kasar. Ditambah lagi dengan adanya norma-norma yang melonggarkan tindakan kekerasan untuk terjadi,” kata Tika di Jakarta, Rabu (2/8).

 

Ia melanjutkan, anak-anak yang terbiasa dikasari di rumah, dilecehkan, dihina, saat di rumah cenderung tidak melawan tetapi memendam perasaan. Saat keluar rumah, dia mencari penyaluran rasa amarahnya.

 

“Pada saat di luar rumah, rasa itu harus dikeluarin kan? Supaya mentalnya seimbang lagi. Saat dikeluarkan itulah seringkali tidak imbang porsinya. Apalagi kalau tidak ada pendampingan, guru di sekolah juga cuek. Si pembully ini yang tadinya cuma mencari penyaluran akhirnya menikmati berkuasa atas orang lain. Insting berkuasanya itu, dia nikmatin betul, akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Tika pada hariansuara.com.

 

Tika menolak faktor lingkungan luar rumah ikut berperan dalam pembentukan karakter kekerasan anak. Menurutnya, faktor rumah itu nomor satu penyebabnya. Keluarga seharusnya bisa memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak. Mental anak dibentuk, diajarkan untuk beladiri, diberikan pengetahuan bahwa di masyarakat ada hal-hal yang bisa saja kurang menyenangkan untuk si anak.

 

“Kalau dia ditekan-tekan terus selama di rumah, dia menjadi anak lemah. Misalnya nih, saat di luar rumah, bertemu dengan orang yang tidak ok, mengancam-ancam si anak, terus dia tidak bisa bela diri, salah siapa? Ya, salah orang rumah-lah. Dunia tidak melulu diisi hal-hal manis, realita kehidupan kan tidak begitu,” tegas Tika.

 

“Mereka rindu dirangkul, rindu disayang, rindu diusap kepalanya, rindu dikasih nasihat, rindu dipuji, semua anak ingin seperti itu, tidak ada yang cita-citanya ingin menjadi pembully. Tetapi karena hal ini tidak pernah mereka dapatkan, akhirnya terjadilah pembentukan karakter pembully tadi,” tambahnya.

 

Untuk berapa lamanya kembali ke kondisi normal, menurutnya, tergantung dari terapi dan juga usianya. Kalau usia di atas 25 tahun, biasanya sudah menetap. Tetapi bisa juga kalau dia kerja keras untuk tidak kembali menjadi pembully.

 

“Misalnya tadinya dia preman, dipenjara, keluar dari penjara menjadi pekerja yang luar biasa baik, bertanggung jawab, itu saja sudah bagus. Yang penting harus ada pendampingan supaya perubahannya menetap,” tutur Tika.

 

Tika berharap, sebelum anak bersosialisasi pada masyarakat, keluarga terutama bagi ayah dan ibunya, tidak melakukan kekerasan terhadap anak.

 

“Jangan perlakukan anak seperti itu, lakukan dengan asah asih asuh, mendidik anak tidak dengan kasar, tindakan kekerasan fisik maupun verbal. Itu kan anak kita, jadi harus dengan lemah lembut,” tutupnya. (Albi Wahyudi)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X