Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Kesehatan

Ini Dia Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kasus Difteri

Kesehatan
06 Dec 2017
Ini Dia Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kasus Difteri

 

 

hariansuara.com, Jakarta - Sehubungan dengan peningkatan kasus difteri di beberapa wilayah Indonesia, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan Penyakit difteri sangat menular dan dapat menyebabkan kematian.

 

Dalam laman resmi IDAI yang dikutip hariansuara.com, Rabu, (12/6), dijelaskan penyakit difteri dapat dicegah dengan melakukan imunisasi sesuai yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia.

 

“Imunisasi adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit difteri, dan dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.”tulis IDAI.

 

Lengkapi imunisasi DPT/DT/Td anak anda sesuai jadwal imunisasi anak Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi difteri lengkap adalah sebagai berikut Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT). Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali, Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.

 

Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.

 

Kenali gejala awal difteri. Gejala awal difteri bisa tidak spesifik, seperti Demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorok, sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah

 

Namun memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorok atau hidung, yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut sebagai bull neck.

 

Segera ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor) atau pembesaran kelenjar getah bening leher, khususnya anak berumur < 15 tahun.

 

Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.

 

Apabila anak didiagnosis difteri, akan diberikan tatalaksana yang sesuai termasuk perawatan isolasi

 

Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter dan petugas dari Dinas Kesehatan, serta mendapat obat yang harus dihabiskan untuk mencegah penyakit, apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.

 

Anggota keluarga yang tidak menderita difteri, segera dilakukan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia. Laksanakan semua petunjuk dari Dokter dan Petugas Kesehatan setempat.

 

Setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam 1-2 hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.

 

Anak dengan batuk pilek ringan dan tidak demam tetap bisa mendapatkan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia. Jika imunisasi tertunda atau belum lengkap, segera lengkapi di fasilitas kesehatan terdekat.

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X